Di balik pintu istana, mereka tetap hidup sebagai keluarga yang hangat. Saat dunia memandang mereka sebagai aib, keduanya justru menjadi tempat berlindung satu sama lain. Ia memainkan lagu-lagu ciptaannya untuk menghibur sang kakak, sementara kakaknya selalu mengingatkannya bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi berbeda.
Namun, tekanan dari para bangsawan semakin memburuk. Undangan jamuan mulai berhenti datang, sekutu keluarga perlahan menjauh, dan bisnis keluarga mengalami kemunduran akibat berbagai boikot yang dilakukan secara diam-diam. Orang tuanya terus berusaha bertahan, tetapi harga yang harus dibayar semakin besar.
Merasa menjadi penyebab runtuhnya kehormatan keluarga, keduanya akhirnya mengambil keputusan yang menyakitkan. Di suatu malam tanpa pamit kepada siapa pun selain kedua orang tua mereka, mereka meninggalkan gelar bangsawan, rumah, dan seluruh kemewahan yang mereka miliki. Mereka berlayar menuju sebuah benua asing bernama Tonala, berharap dapat memulai hidup baru tanpa harus terus hidup sebagai beban bagi keluarga mereka.
Perpisahan itu menjadi terakhir kalinya mereka melihat kedua orang tua mereka.