Di sela pelariannya dari pengawasan keluarga, ia bertemu Louis—pemuda biasa tanpa gelar, tanpa harta, tapi dengan kebebasan yang tak pernah Haya miliki. Louis memperkenalkannya pada musik yang jujur dan liar, dimainkan bukan untuk menyenangkan tamu istana, melainkan untuk mengekspresikan hati. Bersamanya, Haya belajar bahwa suara retak lebih indah daripada nada sempurna yang dipaksakan. Louis-lah yang pertama kali mengatakan bahwa ia tidak perlu menjadi simbol keluarga—ia bisa menjadi seorang bard.
Kini Haya sudah tidak membawa nama besarnya. Ia tersenyum bukan karena tuntutan etika, melainkan karena ia memilih untuk. Musiknya tak lagi sopan—ia bebas, tajam, kadang kacau. Dan di setiap nada yang ia mainkan, ada jejak seseorang yang pernah membantunya menemukan siapa dirinya sebenarnya.