© 2026 WestMarches.games
Reputation:
4
Clockwork Solar:
51
Species:
Goblin
Class:
Sorcerer
Subclass:
Storm sorsery
Completed:
2
Most recent:
3 months ago
Nama: Meru Lightway
Species: Goblin
NPC Must Alive: Sister Lilya
Asal Karakter: —
Tanggal Lahir / Age: 18 thn
Alignment: Chaotic Good
Lines & Veils: —
Appearance:
Meru adalah goblin bertubuh kecil dengan kulit kehijauan pucat dan mata kuning terang yang selalu bergerak penuh rasa ingin tahu. Rambutnya acak-acakan, cenderung berdiri karena sering tersambar listrik dari sihirnya sendiri. Saat emosinya tidak stabil, percikan listrik kecil sering muncul di ujung jari atau rambutnya. Pakaiannya sederhana, kebanyakan adalah pakaian lama dari gereja yang sudah dimodifikasi agar nyaman untuk bergerak. Tubuhnya jarang bisa diam, selalu gelisah, seolah ada energi yang terus mengalir di dalam dirinya.
Backstory:
Tidak ada yang tahu dari mana asal Meru Lightway, bahkan dirinya sendiri. Ia ditemukan sebagai bayi di tangga sebuah gereja tua di pinggir desa setelah hujan reda, tubuh kecilnya terbungkus kain tipis dan hampir tak bergerak. Seorang suster bernama Sister Lilya menemukannya dan, tanpa banyak pertanyaan, memutuskan untuk merawatnya. Sejak saat itu, gereja menjadi satu-satunya rumah yang pernah Meru kenal, dan Lilya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Meru tumbuh menjadi anak yang pecicilan, berisik, dan tidak pernah bisa diam. Ia sering membuat keributan kecil di dalam gereja, berlari di lorong, menjatuhkan barang, dan mengganggu ketenangan tempat itu. Namun di balik semua itu, ia membawa kehidupan ke dalam bangunan yang sunyi. Banyak yang menganggapnya merepotkan, tetapi tidak ada yang benar-benar membencinya. Bagi Lilya, Meru bukan sekadar anak yang ia temukan ia adalah adik.
Semua berubah pada suatu malam ketika sekelompok bandit menyerbu gereja. Mereka datang dengan kekerasan, membakar dan menghancurkan tanpa ampun. Api menyebar dengan cepat, dan teriakan memenuhi udara. Di tengah kekacauan itu, Meru hanya bisa berdiri, ketakutan dan tidak berdaya, hingga ia melihat seorang bandit mengancam Lilya.
Dalam kepanikan dan keputusasaan, sesuatu dalam dirinya terbangun. Petir meledak dari tubuhnya sendiri, liar dan tak terkendali, menghantam bandit itu dengan kekuatan yang bahkan tidak ia pahami. Suara gemuruh memenuhi ruangan, seolah badai lahir di dalam gereja yang sedang runtuh. Itulah pertama kalinya kekuatan Storm Sorcery miliknya muncul bukan untuk menyerang, melainkan untuk melindungi.
Lilya tidak pernah mempertanyakan kekuatan itu. Ia hanya menggenggam tangan Meru dan membawanya keluar dari gereja yang telah dilahap api. Malam itu, mereka kehilangan rumah mereka, bukan karena makhluk gelap atau kutukan, tetapi karena ulah manusia.
Sejak saat itu, Meru tetap terlihat sama di luar ramai, ceroboh, dan tidak bisa diam namun di dalam dirinya tumbuh perasaan hampa. Ia mulai merasa bahwa hidupnya tidak memiliki arti, bahwa kehadirannya hanya membawa kehancuran. Satu-satunya hal yang membuatnya terus berjalan adalah Lilya. Ia percaya bahwa selama ia masih bisa melindungi kakaknya, maka keberadaannya masih memiliki alasan.
Kini, mereka hidup tanpa tempat untuk kembali, berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Meru tidak tahu siapa dirinya sebenarnya atau dari mana kekuatannya berasal. Namun satu hal yang ia yakini: jika dunia kembali mencoba merebut satu-satunya keluarga yang ia miliki, maka ia tidak akan ragu untuk menjadi badai itu sendiri. ⚡