Dalam pelarian itu, Seraphine bersembunyi di sebuah sanctuary kuno yang telah lama ditinggalkan. Di tempat tersebut, ia menemukan altar retak milik deity lama yang hampir dilupakan—entitas divine yang menaungi secrets, deception, hidden truths, dan whispered promises. Di sanalah ia membuat pact devotion baru, menerima bahwa dunia tidak berjalan hanya dengan honesty dan righteousness semata.
Sejak saat itu, Seraphine tetap menjadi seorang cleric, tetapi bukan lagi untuk menjadi simbol kesucian. Ia memilih jalannya sendiri, menggunakan blessing, illusion, serta divine trickery untuk mengumpulkan informasi, membantu mereka yang ia anggap layak, dan perlahan mengungkap jaringan corruption yang dulu menghancurkan hidupnya.
Bagi sebagian orang, ia adalah healer yang anggun dan menenangkan.
Bagi yang lain, ia hanyalah bayangan yang tersenyum sambil menyimpan terlalu banyak rahasia.
Tidak ada yang benar-benar tahu apakah Seraphine masih mencari redemption, revenge, atau sesuatu yang jauh lebih besar.