Y (Way) tumbuh di sebuah desa kecil yang damai, tetapi kedamaian itu hanyalah ilusi. Desa mereka terus-menerus menjadi korban konflik antara kerajaan-kerajaan besar. Ia menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang yang dicintainya tewas dalam perang yang tidak mereka mulai. Ayahnya, seorang prajurit yang idealis, tewas dalam sebuah pertempuran sia-sia. Ibunya meninggal karena kelaparan saat kota-kota di sekitarnya sibuk saling berperang.
Penderitaan yang ia alami tidak membuatnya membenci dunia, tetapi ia menjadi yakin pada satu hal: kedamaian sejati tidak akan pernah ada selama masih ada kejahatan dan egoisme. Ia melihat dunia sebagai lingkaran kebencian yang tak berujung, di mana setiap konflik menciptakan penderitaan baru, yang pada gilirannya melahirkan lebih banyak kebencian.
Way tumbuh di dunia yang, di matanya, penuh dengan kekacauan dan ketidakadilan. Hukum, baginya, hanyalah formalitas yang gagal melindungi yang lemah. Way berdoa, tetapi ia merasa doanya hanya menjadi bisikan yang hilang di tengah kebisingan dunia.
Perlahan, sebuah keyakinan dingin tumbuh di dalam hatinya: kedamaian sejati tidak dapat dicapai hanya dengan belas kasihan. Dunia terlalu sakit, dan satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah dengan mengeliminasi virus kejahatan itu sendiri. Way percaya, untuk mengakhiri penderitaan, ia harus menghancurkan sumbernya. Ia mulai memandang dirinya sendiri sebagai instrumen yang dibutuhkan oleh dunia—seorang hakim yang lebih tinggi dari hukum manusia. kekuasaan untuk menegakkan keadilan mutlak.