Dahulu, Blue bukanlah Blue.
Namanya adalah "----" seorang pemuda biasa, penjaga desa di sebuah desa kecil yang terletak di perbatasan antara hutan dan padang rumput. Desa yang tenang, jauh dari intrik politik dan perang besar. Ia hanyalah seorang penjaga—tugasnya menjaga gerbang desa, memastikan tidak ada bandit masuk, dan kadang-kadang membantu warga yang kesulitan. Ia cukup terampil dengan pedang, tapi tidak lebih dari rata-rata.
Suatu malam, saat ia berjaga sendirian di gerbang desa, semuanya berubah.
Ia tidak melihat siapa yang menyerangnya.
Hanya bayangan. Hanya bisikan. Hanya rasa sakit di kepalanya — dan kemudian... kegelapan. Ketika ia bangun, ia berada di tempat yang tidak ia kenali. Sebuah ruangan gelap, penuh dengan simbol-simbol aneh yang bercahaya redup. Udara terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya. Ada bau—bau darah dan sesuatu yang manis, hampir busuk. Ia melihat tangannya. Bukan tangannya. melainkan Cakar. Sisik. Cangkang. bukan manusia lagi. Ia adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak ia kenali. Seekor Tortle.
Ia melarikan diri ke rawa-rawa. Tidak ada tujuan—hanya menjauh dari peradaban. Selama berhari-hari ia mengembara, hidup dari buah-buahan liar dan air sungai. Tubuhnya yang baru terasa asing—lebih berat, lebih lambat, tapi anehnya lebih kuat. Cangkangnya melindunginya dari bahaya. Cakarnya memberinya kemampuan untuk memanjat dan bertahan.
Akhirnya, ia menemukan sebuah gua.
gua di dalam rawa, tersembunyi dalam kabut. Gua ini adalah tempat persembunyian yang sempurna. Dan di sinilah Blue lahir.
Blue (nama baru yang ia pilih, dari warna cangkangnya yang kebiruan) menghabiskan tahun-tahun pertamanya di Mistfen dengan diam-diam. Ia belajar tentang Kutukan dan Sihir (Witchcraft) Simbol-simbol kuno yang digunakan untuk mengubah wujud, teori kutukan dan bagaimana kutukan bekerja, witchcraft dasar—mantra-mantra kecil, ramuan-ramuan sederhana. Pada tahun ke-7 di gua. Blue terus berlatih dengan seni bluesinging yang ia kembangkan dari pengalamanya seabagai prajurit dan sihir witchcraftnya.
Pada akhirnya ilmu yang dipelajarinya tidaklah cukup untuk menyembuhkan dirinya. Sampai perjalanan ke tanah baru berharap bisa menemukan sesuatu disana. Berangkatlah dia kesana berharapa dapat menyembuhkan kondisinya