Nama: Hara Prawiraharja
Species: Elf
Npc Must Alive : Arnawama (Swordmaster)
Asal Karakter : Luar Tonala
Tanggal Lahir / Age : 11 Tisheri 1076 / 138 Tahun (22 years of human age)
Allignment : Chaotic Good
Lines & Veils : -
Appereance :
Seorang petualang elf muda berusia 138 tahun dengan tinggi sekitar 175 cm, berambut hitam acak-acakan sebahu dan bermata merah menyala, memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kanan serta bekas luka yang melintasi mata kiri. Ia mengenakan pakaian ala pengembara bernuansa gelap yang berlapis-lapis, lengkap dengan jubah cokelat usang yang compang-camping di ujungnya dan topi bambu tradisional. Dua pedang indah tersandang di pinggang kirinya, siap digunakan, sementara penampilannya secara keseluruhan memberikan kesan tangguh dan penuh waspada layaknya seorang pengembara berpengalaman.
Backstory:
Hara lahir dalam keluarga sederhana yang hidup berkecukupan. Sejak kecil ia berlatih pedang di bawah bimbingan seorang guru yang ia hormati layaknya ayah kedua. Namun seluruh hidupnya berubah dalam satu malam ketika sang guru mengkhianati keluarganya dan membantai mereka demi ambisi yang tidak pernah benar-benar dipahami Hara.
Ia selamat hanya karena bersembunyi di bawah jasad ayahnya. Dari malam itu, satu-satunya peninggalan yang berhasil ia bawa hanyalah jubah berdarah sang ayah. Meski kini telah usang dan compang-camping, Hara tetap mengenakannya sebagai pengingat akan keluarga yang hilang dan rasa bersalah sebagai satu-satunya penyintas.
Trauma tersebut membentuk dirinya menjadi pribadi yang tertutup akan masa lalunya, penuh kewaspadaan, dan sangat protektif terhadap orang-orang yang ia sayangi. Ia juga terbiasa mengenakan caping untuk menyembunyikan tatapan matanya yang sering dipenuhi kecemasan serta bayang-bayang masa lalu.
Meski memiliki alasan untuk membalas dendam, Hara memilih meninggalkan tanah kelahirannya daripada membiarkan hidupnya dikuasai kebencian. Dengan sepasang pedang dan harapan menemukan tujuan baru, ia berangkat menuju Tonala untuk menjadi seorang petualang.
Namun luka malam itu tidak pernah benar-benar sembuh. Bayangan sang guru dan jeritan keluarganya masih menghantui mimpinya, membuat Hara terus hidup dalam ketakutan akan kehilangan orang-orang yang kini ia anggap berharga.