Ia mengenakan mantel putih panjang dengan aksen emas yang tampak terlalu megah untuk seorang musafir, menutupi pakaian hitam berbahan tebal dan sarung tangan kulit yang praktis. Untuk seseorang yang tampak begitu kokoh dan karismatik, ia sering kali tersesat, tersandung akar pohon yang terlihat jelas, atau tanpa sengaja menyenggol kendi tuak di kedai hingga pecah berantakan.
Jika ditanya mengapa ia berpetualang, Fionn akan menjawab dengan suara baritonnya yang lantang, dan penuh antusias.
"Fionn! Namaku Fionn Vance Galan! Keluargaku kehilangan hak atas kedai kami di persimpangan jalan Kaussay Tampu," ia akan menjelaskan, memijat pelipisnya seolah mengingat deretan angka memusingkan yang dirinya sendiri juga tak memahaminya. "Aku sedang melakukan..., ah, iya, riset pasar. Mengumpulkan berbagai resep, barang antik, dan mungkin sedikit modal. Saat aku kembali nanti, aku ingin membangun persinggahan terbesar di benua ini. Tempat di mana tak seorang pun harus tidur di jalanan!"
Ia tidak pernah menyebut dirinya ksatria. Ia menyebut tombak besarnya sebagai 'rekan bisnis yang ia sayangi', dan ia melihat kawan-kawan seperjalanannya bukan sebagai pasukan tempur, melainkan mitra bisnis yang harus ia pastikan pulang dengan selamat, apa pun harganya.