© 2026 WestMarches.games
Gold:
139.78
Reputation:
3
Species:
Human
Class:
Paladin/Warlock
Subclass:
Oath of Devotion
Completed:
3
Most recent:
9 hours ago
Nama: Fionn Vance Galan
Species: Human
NPC Must Alive: Eucain Vance (Ayah), Gwen Vance (Ibu), Isaa Vance Isolde (Adik Perempuan)
Asal Karakter: Kaussay-Tampu
Tanggal Lahir / Age: 11 Silvan 1193 / 19
Alignment: Neutral Good
Lines & Veils: -
Ia memiliki perawakan yang tegap, bahu yang lebar, dan tulang yang tebal, postur seseorang yang terbiasa memanggul tong-tong gandum dan peti kayu ek tanpa memeras banyak keringat. Rambut pirangnya berantakan, dibiarkan jatuh menutupi sebagian dahi, membingkai sepasang mata berwarna ambar yang selalu memancarkan kehangatan yang hangat. Dia memiliki tekad dan ketulusan yang membuat pedagang pasar gelap di kotanya enggan berurusan dengannya, dan membuat penjaga gerbang kota mengabaikan prosedur pemeriksaan. Ada tarikan gravitasi dalam cara Fionn tersenyum, sebuah senyum yang mengatakan, 'Dunia ini kejam, tetapi setidaknya kau aman di sini.'
Ia mengenakan mantel putih panjang dengan aksen emas yang tampak terlalu megah untuk seorang musafir, menutupi pakaian hitam berbahan tebal dan sarung tangan kulit yang praktis. Untuk seseorang yang tampak begitu kokoh dan karismatik, ia sering kali tersesat, tersandung akar pohon yang terlihat jelas, atau tanpa sengaja menyenggol kendi tuak di kedai hingga pecah berantakan.
Jika ditanya mengapa ia berpetualang, Fionn akan menjawab dengan suara baritonnya yang lantang, dan penuh antusias.
"Fionn! Namaku Fionn Vance Galan! Keluargaku kehilangan hak atas kedai kami di persimpangan jalan Kaussay Tampu," ia akan menjelaskan, memijat pelipisnya seolah mengingat deretan angka memusingkan yang dirinya sendiri juga tak memahaminya. "Aku sedang melakukan..., ah, iya, riset pasar. Mengumpulkan berbagai resep, barang antik, dan mungkin sedikit modal. Saat aku kembali nanti, aku ingin membangun persinggahan terbesar di benua ini. Tempat di mana tak seorang pun harus tidur di jalanan!"
Ia tidak pernah menyebut dirinya ksatria. Ia menyebut tombak besarnya sebagai 'rekan bisnis yang ia sayangi', dan ia melihat kawan-kawan seperjalanannya bukan sebagai pasukan tempur, melainkan mitra bisnis yang harus ia pastikan pulang dengan selamat, apa pun harganya.