© 2026 WestMarches.games

Level
10
Experience
79,550 XP
Gold:
519.27
Reputation:
68.06
Species:
Human
Class:
Wizard
Subclass:
Bladesinger
Completed:
46
Most recent:
5 days ago
Seorang manusia yang mempelajari sihir untuk menciptakan dunia yang ia inginkan.
Kulitnya pucat layaknya salju. Saat ini pun rambutnya yang hitam, secara alami mulai berubah menjadi putih seutuhnya. Tubuh tingginya yang meskipun lengannya terlihat kurus itu selalu menggenggam katana miliknya kemana ia berjalan. Di tengah rona pucat itu, pendar biru di pupil yang selaras dengan tema warna pakaiannya membuat aksen dingin makin terasa dari penampilannya.
Debu abu-abu itu lebih ringan dari salju, namun terasa lebih dingin saat menyentuh jemari Soren.
Zarovich telah tumbang, tubuh sang penguasa teater itu hancur, namun kemenangan ini terasa seperti sebilah belati yang diputar di dalam dada. Di kaki Soren, hanya tersisa abu. Tidak ada jasad untuk dipeluk, tidak ada luka untuk disembuhkan. Sihir Disintegrate telah merenggut tunangannya, menghapusnya dari eksistensi semudah angin meniup lilin kecil di tengah malam. Belakangan ini, satu per satu teman seperjuangannya juga gugur, dicabik oleh monster atau entitas apapun yang tak kenal ampun.
Soren van Polaris, sang petualang yang bermimpi memetakan rasi bintang, jatuh berlutut. Pedang di tangannya bergetar, namun untuk pertama kalinya dalam hidup, Soren benar-benar kehilangan arah. Badai salju yang menewaskan orang tuanya di usia lima tahun kembali menderu di dalam kepalanya. Diam seribu bahasa. Langit malam di atasnya terasa kosong, seolah bintang-bintang sedang mengejek kenaifannya.
Selama ini, ia memandang sihir sebagai instrumen yang indah, sebuah melodi Starrysinger (Bladesing) untuk melindungi rekannya, sebuah alat presisi untuk menerangi malam yang gelap. Namun hari ini, ia melihat wajah sihir yang sesungguhnya. Sihir tidak hanya bernyanyi, ia bisa mencabik, menghapus, dan mereduksi kehidupan yang kompleks menjadi segenggam debu.
“Jika sihir bisa menghancurkan kehidupan hingga tak bersisa…” pikir Soren, matanya yang lembut perlahan menajam, “Maka logika semesta menuntut hal yang sebaliknya. Harus ada sihir yang bisa merangkai kembali debu menjadi kehidupan. Harus ada sihir yang bisa mengunci ruang dan waktu, menciptakan tempat di mana kehilangan adalah hal yang mustahil.”
Hari itu, Soren yang bertindak seperti "sistem" untuk menyenangkan hati orang lain, mati. Dari abunya, lahirlah Sang Polaris Hitam.
Soren berhenti tersenyum pada dunia yang kejam. Ia tidak lagi sekadar memetakan konstelasi, ia akan memulai jalan sihirnya untuk membedah jalinan realita (The Weave). Jika Dewa-Dewi hanya bermain-main dengan nyawa manusia dari atas singgasana mereka, maka Soren akan mencoba mengambil alih papan permainannya.