Iblis-iblis itu menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya, menyerang siapa saja yang terlihat oleh mereka. Warga desa yang hanyalah pengumpul herbal tak mampu melawan keganasan mereka. Semua terjadi begitu cepatnya, bagaikan mimpi buruk yang datang di pagi buta.
Terdesak, para warga berlindung di sebuah gudang tua, satu-satunya bangunan yang masih tersisa. Mereka meringkuk di balik dinding kayu yang rapuh, hanya berpegang doa.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar derap langkah kuda, diiringi teriakan lantang seorang pria. Jeritan ketakutan warga perlahan tergantikan oleh raungan iblis yang meronta ronta. Seorang ksatria datang menunggang kuda putihnya, menebas makhluk-makhluk durjana hingga tak bersisa. Dengan pedang yang memancarkan cahaya, ia berhasil mengalahkan hampir seluruh iblis yang ada.
Namun portal yang terbuka terus memuntahkan lebih banyak iblis dari dalamnya, seolah jumlah mereka sangat banyak hingga tak terkira.
Tak lama setelahnya, satu kompi pasukan berkuda tiba. Para prajurit bahu-membahu menghabisi iblis yang tersisa, sementara para pendeta berusaha menutup portal tersebut dengan sihir mereka.
Sepertinya sang Dewi masih berpihak kepada warga desa.
Pada akhirnya, bencana itu berhasil diatasi oleh seorang ksatria beserta pasukannya. Orang-orang yang datang entah dari mana, lalu menghilang hanya meninggalkan sebuah nama. Arthur sang Ksatria.