Aku lahir di keluarga bangsawan yang selama beberapa generasi sibuk meyakinkan diri bahwa mereka berdiri sedikit lebih dekat dengan langit dibanding manusia lainnya. Gelar, etika, restu ilahi—seluruh hidupku dulu berputar di sekitar gagasan bahwa kebesaran adalah sesuatu yang diberikan dari atas. Dulu aku juga mempercayainya. Atau mungkin aku hanya terlalu malas untuk mempertanyakannya. Aku mengejar pengaruh, mengejar kursi dewan, tersenyum di tengah kumpulan para pembohong elegan yang berpura-pura bahwa takdir memang hanya milik orang-orang seperti mereka. Lalu aku kalah. Sesederhana itu. Bukan karena perang besar atau pengkhianatan dramatis. Hanya politik. Begitu aku berhenti berguna, mereka mencabut gelarku, namaku, lalu kebebasanku, dan membuangku ke tengah badai bersama para kriminal lain yang ingin mereka lupakan. Lucunya, aku bahkan tidak benar-benar membenci mereka. Manusia selalu membutuhkan sesuatu untuk disembah karena mereka takut hidup tanpa sosok yang memberi tahu siapa diri mereka sebenarnya. Dewa, raja, takdir—bagiku semuanya terasa sama saja sekarang.
Masalahnya, aku tidak pernah percaya manusia diciptakan untuk tetap kecil. Menurutku, manusia adalah makhluk mengerikan yang berpura-pura lemah karena itu terasa lebih aman. Setiap kota, penemuan, dan kerajaan dibangun oleh tangan manusia, namun mereka masih berlutut sambil berterima kasih pada langit atas pencapaian mereka sendiri. Aku tidak pernah bisa memahami itu. Kenapa memuja langit untuk sesuatu yang lahir dari ambisi manusia? Kenapa menerima batas hanya karena seseorang yang lebih kuat atau lebih abadi mengatakan batas itu ada? Bagiku, garis antara fana dan ilahi tidak pernah terlihat seperti hukum. Itu terlihat seperti tantangan. Mungkin terdengar sombong. Ya, mungkin memang begitu. Tapi bahkan sekarang, berdiri di pulau terkutuk ini dengan besi dingin mengikat leherku dan badai yang mencoba membunuhku setiap malam, aku tetap tidak bisa merasa putus asa. Kalau dipikir-pikir, Wylderock justru membuktikan pendapatku. Ambil semuanya dari manusia—status, kenyamanan, harapan—dan mereka tetap berjalan maju. Tetap bertahan hidup. Ada sesuatu yang indah dari itu. Jadi tidak, aku tidak menganggap ini akhir hidupku. Sejujurnya, aku sendiri tidak yakin pernah punya rencana sejak awal. Tapi orang sepertiku tidak membutuhkan kepastian untuk terus melangkah.