Gold:
495
Species:
Tiefling
Class:
Paladin
Completed:
8
Upcoming:
1
Most recent:
4 days ago
Oni La Kenway pernah dikenal sebagai badai yang berwujud manusia. Namanya bergaung di setiap pelabuhan sebagai bajak laut yang angkuh, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Laut adalah rumahnya, dan jarahan adalah napasnya. Ia menaklukkan ombak dengan tawa sinis, merampas tanpa ragu, dan membanggakan ketakutan yang ia tanam di hati banyak orang.
Namun lautan yang sama yang ia anggap sahabat, pada akhirnya menuntut harga.
Dalam sebuah pelayaran yang seharusnya menjadi kemenangan berikutnya, langit mendadak membisu dan laut berubah menjadi hitam pekat, seakan dunia tenggelam dalam duka purba. Dari kedalaman yang tak terjamah cahaya, tentakel-tentakel raksasa muncul, melilit lambung kapalnya. Kayu-kayu retak, layar tercabik, dan jeritan para kru tenggelam bersama gemuruh ombak. Dalam hitungan detik, kapal itu diremas hingga hancur tak bersisa. Seluruh awaknya binasa.
Oni tak mati.
Tubuhnya terseret arus, terombang-ambing di antara hidup dan mati, hingga akhirnya terdampar jauh di pesisir yang asing. Di sanalah ia ditemukan oleh seorang pendeta yang dianggap sesat oleh banyak orang—seorang pemuja dewa. Di bawah bimbingan sang pendeta, Oni tidak hanya belajar tentang kematian, tetapi juga tentang penebusan. Ia diajarkan bahwa hidup yang tersisa bukanlah kebetulan, melainkan kesempatan.
Kini, Oni La Kenway berjalan di jalan yang berbeda. Ia memilih menjadi paladin, bukan karena takdir, melainkan karena kehendaknya sendiri—sebuah ikhtiar untuk menebus darah dan dosa yang pernah ia tumpahkan. Pedangnya tak lagi diayunkan demi emas, melainkan demi keseimbangan antara hidup dan mati.
Meski demikian, masa lalunya tak pernah benar-benar pergi. Ia sulit mempercayai orang lain, seolah setiap senyum menyimpan potensi pengkhianatan. Ia tidak menutup diri, namun jarak selalu ia jaga. Terkadang, naluri lamanya masih berbisik—ia enggan membantu jika tak ada keuntungan yang jelas. Bayangan bajak laut itu masih hidup di dalam dirinya.
Ingatan tentang malam kelam itu pun tak sepenuhnya utuh. Ada bagian yang hilang, terkikis kabut di benaknya. Dan di sela-sela sunyi, ia kerap bertanya: apakah ia benar-benar selamat… atau ada sesuatu dari kedalaman laut yang masih mengikutinya?