Gold:
228
Species:
Goblin
Class:
Sorcerer
Subclass:
Strom sorcery
Completed:
9
Most recent:
19 days ago
Meru tidak pernah mengingat wajah orang tuanya, atau suara yang pernah memanggil namanya dengan lembut. Yang ia ingat hanyalah langit kelabu, bocor oleh hujan, dan atap-atap kota yang menjadi tempat tidurnya dari malam ke malam. Ia tumbuh sebagai bayangan kecil yang berpindah di antara cerobong asap dan gang sempit, berteman dengan gemericik air di talang dan kilat jauh di balik awan. Dunia terlalu besar dan terlalu bising untuk peduli pada goblin kurus yang hidup dari sisa-sisa, tetapi badai selalu ada, seolah mengawasinya ketika tak ada siapa pun yang melakukannya.
Malam ketika kekuatannya terbangun adalah malam ketika tubuhnya seharusnya berhenti bergerak. Dingin merayap ke tulangnya, napasnya memendek, dan hujan turun tanpa jeda seperti tirai yang menutup dunia. Lalu langit terbelah. Petir menyambar tanpa awan, angin berputar turun ke lorong sempit tempat ia tergeletak, dan tubuh kecilnya terangkat dari tanah oleh sesuatu yang tidak melukai, tidak membakar, hanya menolak untuk melepaskannya. Sejak saat itu badai tidak lagi berada di atas kepalanya, badai hidup di dalam dadanya.
Sejak saat itu dia Berkelana dan bergabung ke guild, Meski pun begitu, di balik senyumnya yang penuh taring dan langkahnya yang ringan seperti angin, Meru masih membawa rasa sepi yang tak pernah sepenuhnya hilang. Ia berkelana bukan untuk mencari kekuatan, karena kekuatan itu sudah bernapas bersamanya, melainkan untuk menemukan tempat di mana ia tidak perlu mengecilkan dirinya agar muat. Tempat di mana gemuruh di dalam dadanya tidak dianggap ancaman, tetapi lagu. Ia percaya bahwa suatu hari nanti langit akan membuka diri bukan sebagai sesuatu yang jauh dan tak terjangkau, melainkan sebagai rumah yang mengenali namanya, dan ketika hari itu tiba, badai yang selama ini mengikutinya tidak lagi menjadi pelindung atau pelarian, tetapi bagian dari dirinya yang akhirnya diterima oleh dunia.