Gold:
59
Species:
Dragonborn
Class:
Paladin
Vishegar menetas di puncak Pegunungan Varon, tanah suci tempat kaum Blue Dragonborn bermukim. Kaum ini dikenal berbeda—mereka tidak menghembuskan api seperti kebanyakan dragonborn, melainkan petir yang mengalir dari tubuh mereka sendiri.
Pada malam kelahiran Vishegar, badai mengguncang langit tanpa henti. Kilat menyambar puncak gunung berulang kali, seolah langit itu sendiri bernyanyi. Para tetua percaya itu bukan badai biasa, melainkan nyanyian langit—tanda kelahiran seorang yang akan menentukan masa depan kaum Blue Dragonborn.
Tahun-tahun berlalu. Saat Vishegar mencapai usia dewasa, ramalan itu hampir menjadi ironi pahit.
Langit kembali terbelah, namun kali ini bukan oleh badai—melainkan oleh celah dunia. Dari sana, pasukan abyssal merayap keluar, menelan desa-desa Blue Dragonborn dalam darah dan petir. Vishegar menyaksikan kaumnya jatuh satu per satu, kekuatan petir mereka tak cukup untuk menahan kegelapan yang terus mengalir.
Di tengah kehancuran, saat harapan hampir padam, sebuah suara turun bersama kilat yang membelah udara:
“Bangkit, dan jadilah perisai bagi yang tak berdaya.”
Sebuah petir menyambar tepat di hadapan Vishegar, mengguncang tanah hingga retak. Dari titik sambaran itu, terbaring sebuah longsword, bilahnya berkilau dengan cahaya petir yang belum padam.
Tanpa sempat berpikir—tanpa doa, tanpa rencana—Vishegar menggenggam pedang itu.
Petir mengalir ke seluruh tubuhnya, membakar rasa takut, meninggalkan hanya satu hal: tekad.
Dengan longsword di tangan, Vishegar berdiri di hadapan pasukan abyssal—dan malam itu, langit tidak lagi bernyanyi untuk kelahiran…
melainkan untuk perang.
Setelah menyelamatkan kaumnya dari serangan abyssal, Vishegar meninggalkan Pegunungan Varon dan mengembara sendirian. Dalam perjalanannya, ia melihat dunia yang tak sesederhana medan perang: keadilan yang melahirkan dendam, perlindungan yang berujung penderitaan, dan kekuatan yang digunakan tanpa arah. Semakin sering ia mengandalkan petir di dalam dirinya, semakin ia menyadari bahwa badai tanpa tujuan hanyalah kehancuran yang tertunda.
Pada suatu malam, saat ia memilih berdiri melindungi orang-orang lemah meski tanpa kepastian akan menang, Vishegar akhirnya mengucapkan sumpahnya—bukan kepada dewa, melainkan kepada prinsip yang ia yakini. Saat itulah petir menjawab, bukan sebagai amarah, tetapi sebagai kekuatan yang terkendali. Sejak hari itu, Vishegar berjalan bukan lagi sebagai senjata badai, melainkan sebagai paladin, pelindung yang memilih untuk menjadi perisai sebelum menjadi petir.
Balancing Gold