Dulu, saat masih hidup sebagai seorang bangsawan, Bening sering menghabiskan waktunya mengunjungi berbagai tempat di lingkungan kerajaan, terutama area tempat para pasukan berlatih. Di sana ia bertemu banyak orang hebat—kesatria, prajurit, dan individu-individu kuat dengan pengalaman yang jauh berbeda dari kehidupannya di dalam istana.
Bening senang berbincang dengan mereka, mencoba memahami seperti apa kehidupan di luar kamarnya yang selama ini terasa sempit. Dari rasa penasaran itulah, ia akhirnya bertemu dengan seorang jenderal bernama Lairent—sosok yang dikenal dingin, tegas, dan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Dari Lairent, Bening belajar banyak tentang bagaimana dunia ini benar-benar bekerja. Namun, meskipun ia menghormatinya, Bening tidak sepenuhnya setuju dengan prinsip-prinsip yang dipegang oleh sang jenderal.
Dalam interaksi mereka, Bening mulai mempelajari berbagai hal. Ia mengamati dan meniru trik-trik sederhana seperti cara bergerak tanpa suara, membaca situasi, dan teknik-teknik yang digunakan oleh pasukan. Terkadang, Lairent juga memperlihatkan sekilas tentang dunia sihir, bahkan hingga metode yang digunakan oleh para pembunuh bayangan.
Namun semua itu bukanlah pelatihan yang benar-benar formal. Lairent hanya menunjukkan, dan Bening—dengan rasa ingin tahunya—meniru serta memahaminya dengan caranya sendiri.
Meski demikian, Bening bukanlah seorang pembunuh berdarah dingin. Ia adalah pribadi yang menyukai keramaian, senang bersosialisasi, dan melihat dunia dengan sudut pandang yang penuh rasa ingin tahu. Justru dari perjalanan dan interaksinya dengan banyak orang, tanpa ia sadari, Bening mulai memahami dunia dengan cara yang berbeda—melalui cerita, ekspresi, dan pengalaman.
Dari situlah perlahan tumbuh sisi lain dalam dirinya: bukan sebagai petarung bayangan, melainkan sebagai seseorang yang mengekspresikan dunia melalui seni dan cerita.