Keputusan itu datang dengan cepat, seperti serangan mendadak dari seekor pemangsa. Dia tidak membenci Faydown. Dia mencintai kota itu, dan orang-orang di dalamnya. Tetapi jiwanya menuntut lebih. Dia membutuhkan udara segar—udara yang dingin, tajam, dan bebas dari bau roti basi dan jerami basah. Dia membutuhkan bahaya, tantangan yang akan membuatnya merasa hidup kembali, bukan hanya sekadar ada.
Malam itu, Leoan melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan. Dia mengemasi tas perjalanannya dengan perlengkapan penting, melepaskan lencana Garda Taringnya, dan meninggalkan surat pengunduran diri yang singkat namun tulus di meja komandannya.
Saat bulan sabit naik di atas puncak gunung, menerangi salju abadi, Leoan berjalan menuju gerbang utama. Dia bukan lagi seorang tentara Faydown. Dia adalah seorang petualang.
Gerbang berderit terbuka untuknya, penjaga malam yang baru bertugas menatapnya dengan kebingungan.
"Leoan? Kau akan ke mana selarut ini?" tanya penjaga itu.
Leoan tersenyum tipis, menatap ke jalan setapak yang tertutup salju yang mengarah menjauh dari kota. "Ke tempat udara lebih segar, kawan. Dan kurasa sudah waktunya aku mencari tahu apa yang ada di luar sana."
Tanpa menoleh ke belakang, dia melangkah keluar dari tembok Faydown.
Angin dingin menyambutnya, sebuah pelukan yang keras namun membebaskan. Dia menarik napas dalam-dalam, aroma salju dan bahaya memenuhi paru-parunya. Ini adalah udara yang dia cari. Dan dia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Di depannya, jalan setapak menghilang ke dalam jurang dan pegunungan yang tertutup salju, menuju wilayah yang belum dipetakan. Leoan mengeratkan jubahnya, memegang erat jimat liontinnya, dan melangkah maju. Hari esok adalah misteri, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, dia tidak sabar untuk menghadapinya.