Hujan menderas, membasahi bumi yang bersimbah darah dan lumpur. Di tengah puing-puing kereta kuda kerajaan yang hancur, terbaring sesosok tubuh yang tak memiliki detak jantung. Ia terbangun dalam keheningan yang mencekam, dikelilingi oleh kepingan-kepingan berkarat dari baju zirah bernyawa yang secara misterius telah membantai para penumpang. Ia tidak memiliki nama dan tidak memiliki masa lalu, hanya sebuah lengan kiri dari besi berat yang memendarkan rune sihir, serta sekarik perkamen bersegel lilin di balik tunik birunya: "Temui aku di Benteng. - G." Dengan langkah gontai, ia keluar dari reruntuhan dan memungut sebuah lentera besi. Di dalamnya, sesosok roh kupu-kupu biru menyala terang, siap menjadi pemandu sekaligus hati nuraninya di tengah dunia yang telah jatuh dalam kegilaan.
Ia menyadari wujud aslinya bukan seorang manusia, melainkan sebuah mahakarya sihir golem. Tubuhnya dipahat dari kayu besi kuno dan disatukan oleh perak alkimia. Namun, tidak seperti golem yang tanpa akal di luar sana, ia memiliki kehendak bebas. Master Giuseppe, sang penyihir eksentrik, telah menciptakan sebuah keajaiban dengan menanamkan pecahan jiwa manusia ke dalam batu permata di dadanya. Ironisnya, anugerah kehidupan ini datang membawa kutukan berupa gema memori yang tak utuh.
Ingatan-ingatan bayangan mulai menghantui kesadarannya, memanggil dari kehidupan sebelum ia terperangkap dalam tubuh kayu dan besi ini. Ia bisa melihat sekilas kilasan masa lalu di mana ia adalah seorang pelajar, menghabiskan malam demi malam di bawah pendar lilin untuk meneliti lembaran-lembaran sejarah agama dan peradaban kuno yang terlupakan. Bersamaan dengan memori itu, muncul sebuah rasa sakit yang ganjil di dadanya, sebuah kehangatan dan insting yang begitu kuat untuk melindungi seseorang, yang wajah dan suaranya kini telah terhapus sepenuhnya dari ingatannya.
Kepingan masa lalu itu menolak untuk diam. Setiap kali ia mengayunkan pedangnya dengan sihir evokasi, atau setiap kali ia memilih untuk berbohong demi melindungi orang lain, insting masa lalunya semakin menguat. Pesan singkat dari sang pencipta kini bukan lagi sekadar titik tujuan, melainkan kunci untuk menjawab semua pertanyaannya. Sang boneka pun melangkah menembus kabut kerajaan yang hancur, memulai sebuah petualangan besar. Ia bertekad untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga untuk merangkai kembali pecahan jiwa pelajar sejarah di dalam dirinya, mencari tahu kebenaran tentang seseorang yang masih terus ia rindukan, dan merebut kembali masa lalu sejatinya yang hilang.