Dahulu, EJ hanyalah seorang prajurit biasa yang mengabdi pada garda kerajaan. Di balik baju zirahnya yang sederhana, ia adalah pria paling bahagia. Sebuah rumah mungil di desa terdekat menjadi tempatnya pulang ke dalam pelukan seorang istri yang anggun dan tawa riang putri kecilnya yang menjadi cahaya hidup mereka. Kehidupan mereka dipenuhi kehangatan. Jika pun ada pertengkaran kecil, semua itu sirna dalam hitungan jam, berganti menjadi tawa dan pelukan yang kian erat.
Kehangatan itu mendadak terenggut ketika panggilan tugas memaksa EJ kembali berjaga di benteng kastil. Di tengah keheningan penugasannya, suasana mendadak pecah. Seorang prajurit berlari terengah-engah dengan wajah pucat, meneriakkan kabar buruk:
"Desa di dekat hutan diserang kelompok bandit!"
Seketika, darah Aisen terasa membeku. Jantungnya berdegup kencang menghantam dadanya. Tanpa memedulikan tata krama maupun perintah atasan, EJ memutar badan dan berlari sekencang-kencangnya. Bayangan istri dan anaknya menari-nari di kepalanya di sepanjang jalan menuju desa.
Namun, takdir menertawakan langkah kakinya. EJ terlambat.
Yang menyambut kedatangannya bukanlah senyum hangat sang istri, melainkan lautan api yang menjulang tinggi, melahap rumah-rumah di desanya. Dengan napas tersengal dan dada menekan sesak, EJ menerobos jelaga dan asap tebal menuju rumahnya.
Di sana, langkahnya terhenti kaku.
Di antara puing-puing kayu yang membara, ia menemukan istrinya terbaring tak bernapas—dengan sang putri yang masih berada dalam dekapan hangat ibunya hingga hembusan napas terakhir. Dunianya runtuh seketika. Lutut EJ tak lagi sanggup menopang beratnya rasa hancur di dadanya. Ia roboh ke tanah yang berselimut abu. Dengan tangan yang bergetar hebat, EJ berusaha meraih jemari orang-orang dicintainya... namun rasa sakit dan keputusasaan yang teramat sangat merenggut kesadarannya.
EJ terbangun di balik dinginnya dinding ruang medis kerajaan, dengan seluruh tubuhnya yang terbalut perban. Rasa sakit pada luka fisiknya tak ada artinya dibanding kehampaan yang mencabik jiwanya. Ia sadar, betapa tidak berdayanya ia malam itu.
Namun, air matanya kini telah mengering, berganti menjadi ketajaman dendam.
Di atas pembaringan itu, EJ mengikat sumpah mati, Ia akan memburu dan membinasakan setiap bangsat yang telah membumihanguskan desanya, serta menjadi pedang pencabut nyawa bagi siapa pun yang berani menyengsarakan mereka yang tak berdosa.