Vale Ashworth tak pernah punya satu pun tempat yang bisa ia sebut rumah. Sejak kecil ia terus berpindah, dari satu karavan pedagang ke karavan lainnya, dari satu kota transit ke kota transit yang lain, dibesarkan oleh siapa pun yang cukup baik hati untuk memberinya tempat tidur semalam tak satu pun dari mereka bertahan cukup lama untuk bisa disebut keluarga, kecuali Mira, seorang gadis yang berbagi gerobak dengannya hampir selama dua musim, dan untuk sesaat, membuatnya merasa punya seseorang yang layak ia jaga.
Suatu malam, tanpa penjelasan apa pun yang pernah ia terima, karavan itu tercerai-berai, dan Mira tak pernah lagi muncul di titik pertemuan mereka. Yang tersisa dari sosoknya hanyalah sebilah pisau bergagang kayu, yang dulu pernah ia berikan pada Vale, sambil berkata itu "supaya kau selalu punya cara untuk memotong rotimu sendiri" sebilah pisau yang masih Vale bawa hingga kini, meski tak pernah sekalipun ia gunakan untuk pekerjaan kelam yang akhirnya menjadi caranya bertahan hidup. Tak ada lagi yang mengajarinya apa pun setelah itu; ia belajar sendiri, lewat coba coba, seperti mencuri tanpa diketahui siapapun, membaca raut wajah seseorang untuk tahu kapan harus lari, dan memahami bahwa satu kesalahan kecil saja bisa berarti kelaparan, atau lebih buruk lagi.
Pekerjaan yang ia ambil berubah seiring waktu, dari sekadar mencuri untuk bertahan semalam menjadi sesuatu yang jauh lebih kelam dan jauh lebih menguntungkan, meski ia tak pernah benar-benar berniat menjadikannya seperti itu. Kini, di setiap kota yang pernah ia singgahi, ia dikenal sebagai orang asing paling memesona untuk diajak minum bersama, meski tak satu kota pun benar-benar mengenalnya sesungguhnya sama seperti pertanyaan yang tak pernah berani ia jawab sendiri, apakah Mira masih hidup di suatu tempat, dan apakah gadis itu akan mengenalinya jika jalan mereka bertemu kembali sekarang. Di balik semua candaannya, sebenarnya hanya ada satu hal yang ia inginkan, sebuah tempat yang layak disebut rumah.