Anehnya, sisi vampir yang telah lama ia tekan justru menguat setelah tragedi itu. Seolah amarah dan kehilangan telah membuka sesuatu yang selama ini tak tersentuh! Ia menganggap kekuatan itu berasal dari sesosok patron bernama "The Undead" meski jauh di lubuk hatinya, ia tahu itu hanyalah bagian dari dirinya sendiri yang akhirnya terbangun sepenuhnya.
Aturan-aturan vampir tak lagi ia patuhi, dan norma-norma manusia yang dulu menjadi kedoknya kini tak lagi relevan. Bagi Viktor, hukum hanyalah kesepakatan di antara orang lain hukum itu tidak mengikatnya kecuali ia sendiri memilih untuk mematuhinya. Melanggar aturan, menipu, bahkan membunuh, bukan masalah baginya, selama itu diperlukan untuk menepati janji atau menyingkirkan ancaman bagi mereka yang tak punya cara untuk melindungi diri sendiri. Ia tak pernah lupa rasa tak berdaya yang ia rasakan saat menyaksikan seseorang direnggut begitu saja dan meski dunia telah lama berhenti memberinya alasan untuk peduli, ia tetap tak sanggup memalingkan wajah setiap kali melihat pola itu terulang pada orang lain. Darah manusia tetap menjadi batas yang tak akan pernah ia lewati, apa pun alasannya. Baginya, benar dan salah bukan soal siapa yang membuat aturan, melainkan sumpah mana yang benar-benar ditepati, dan siapa yang masih layak untuk dibela.
Ada dua kenangan dari Velicia yang selalu ia bawa ke mana pun pergi: sebuah cincin tembaga berukir huruf "V" yang tak pernah ia kenakan, dan sebuah kompas tua yang mengingatkannya pada sebuah janji yang tetap berlaku meski orang yang memintanya bersumpah telah lama tiada.