Bagi orang awam, bandit gurun hanyalah sekumpulan orang buangan yang kelaparan, menyerang karavan demi sekantung gandum atau beberapa keping perak. Namun, kelompok yang satu ini berbeda. Mereka bergerak bagai angin malam tanpa suara dan selalu menyisakan teka-teki yang dingin. Di setiap tempat yang mereka jarah, di atas sisa pembakaran yang masih mengepul, mereka selalu meninggalkan sehelai kain putih bersih bertintakan gambar seekor musang yang menyeringai. Tragedi terbesar pecah ketika gerombolan berbendera musang ini berhasil menembus zona paling sakral di pinggiran Babilonia. Mereka menculik putri kecil Lord Sumu-abum tepat di bawah hidung para penjaga terbaik kekaisaran. Anehnya, mereka tidak meminta tebusan emas. Mereka hanya meninggalkan kebingungan, ketakutan, dan fitnah keji yang memecah belah para pelindung kota. Empat petualang yang dikirim untuk melacak mereka justru kembali dengan tubuh penuh luka dan dijebak oleh bukti-bukti palsu yang tertata sangat rapi. Dunia luar melihat ini sebagai kegagalan total dan pengkhianatan. Namun bagi mereka yang bisa membaca arah angin, ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi. Mengapa bandit gurun memiliki peta taktis internal kota? Mengapa lambang musang hewan yang dikenal licik dan pandai menyusup sengaja dipamerkan? Jawabannya tersembunyi di luar sana, di antara pasir gurun yang belum dipetakan. Bendera musang itu bukanlah tanda kelompok kriminal biasa, itu adalah petunjuk sebuah konspirasi besar yang melibatkan orang-orang kuat di dalam dinding kota itu sendiri. Para bandit ini hanyalah pion dari bidak catur yang digerakkan oleh tangan-tangan halus bertangan wangi dari balik tirai kekuasaan.
Atropa DellaDonna