di tempat itulah seorang gadis berambut merah muda dilahirkan.
Sejak kecil, ia dikenal sebagai gadis yang aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia sering bertanya kepada orang-orang di sekitarnya tentang dunia luar, tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan. Karena tidak memiliki banyak hal untuk dijadikan referensi, ia hanya bisa membayangkan seperti apa kehidupan di luar pulau tempatnya tinggal.
Kehidupannya di pulau itu sebenarnya cukup nyaman. Ia memiliki tempat tinggal, orang-orang yang dikenalnya, dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, semakin bertambah usianya, semakin besar pula keinginannya untuk melihat dunia luar secara langsung.
Hingga akhirnya, saat berusia 23 tahun, ia memutuskan untuk meninggalkan pulau tersebut. Keputusan itu bukanlah sesuatu yang mudah, mengingat ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan dihadapinya setelah melewati awan. Meski begitu, ia merasa tidak ingin menghabiskan seluruh hidupnya hanya dengan membayangkan dunia yang belum pernah ia lihat.
Dengan membawa pedang dan perlengkapan seadanya, ia memulai perjalanannya menembus hamparan awan yang selama ini memisahkan pulau tempat tinggalnya dari dunia luar. Perjalanan tersebut tidak mudah, tetapi ia berhasil melewatinya hingga akhirnya menemukan sebuah benua bernama Tonala.
Di sanalah ia memulai kehidupannya yang baru. Banyak hal yang terasa asing baginya, mulai dari kebiasaan masyarakat, berbagai ras yang belum pernah ditemuinya, hingga luasnya dunia yang selama ini hanya ada dalam pikirannya. Ia terkadang masih bersikap polos ketika menghadapi sesuatu yang baru, tetapi hal itu tidak membuatnya kehilangan semangat untuk terus belajar.
Kini, ia berniat menjelajahi Tonala, mencari pengalaman baru, dan memahami dunia yang selama ini terpisah darinya. Ia belum memiliki tujuan yang benar-benar pasti, selain memuaskan rasa penasarannya dan mencari tahu lebih banyak tentang dunia luar.
Baginya, perjalanan ini adalah kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pikirkan ketika masih tinggal di pulau asalnya.
Aku bukan Millim Nava