Sejak kecil, ia sering mengikuti ibunya bekerja. Ketika sang ibu membersihkan aula, dapur, atau kamar tamu, ia biasanya diperintahkan duduk diam di sudut ruangan. Namun yang paling menarik perhatiannya bukan kemewahan rumah para bangsawan, melainkan rak-rak buku yang memenuhi ruang belajar mereka. Ia belajar membaca dari halaman-halaman yang dibuang, surat-surat yang hendak dibakar, serta buku doa tua yang diberikan oleh seorang pelayan biara.
Semakin dewasa, keinginannya untuk membaca berubah menjadi sesuatu yang hampir menyerupai kelaparan.
Di Qorikancha-Lumi, pengetahuan tidak tersedia secara bebas. Perpustakaan terbaik berada di biara, akademi, kediaman bangsawan, serta institusi keagamaan di lingkar-lingkar dalam. Anak seorang maid dari Lingkar Ketujuh hampir tidak memiliki kesempatan untuk memasuki tempat-tempat tersebut sebagai pelajar.
Maka ia menemukan cara lain.
Ia bekerja.
Ia menjadi pembawa kayu bakar di sebuah biara hanya agar diperbolehkan berada di perpustakaan setelah lonceng malam. Ia membersihkan kandang milik seorang bangsawan demi mendapatkan izin membaca koleksi peta keluarga tersebut. Ia pernah menjadi juru tulis sementara, pelayan dapur, penjaga gudang, pembawa surat, pengurus tungku, bahkan membantu menggali saluran panas di bawah sebuah kuil.
Bayarannya sering kali bukan uang.
Ia hanya meminta waktu di perpustakaan.
Malam demi malam ia habiskan dengan membaca di bawah cahaya lilin. Sejarah Intisuyu, astronomi, agama, sihir kuno, catatan ekspedisi, legenda tentang Pecahan Benih Matahari, serta gulungan-gulungan yang dianggap terlalu tidak penting untuk diamankan oleh para pendeta. Ia menyalin halaman demi halaman dengan tangan hingga jemarinya kaku.