© 2026 WestMarches.games
Gold:
1,591.92
Reputation:
15
Species:
Rock Gnome
Class:
Bard
Subclass:
College of Lore
Rank:
D
Completed:
4
Most recent:
13 hours ago
Species: Rock Gnome
NPC Must Alive:
1. Shinji (Artificer lokal Rumi Qullqi)
2. Tōma (Bard Pengembara)
Asal Karakter: Rumi Qullqi
Tanggal Lahir / Age: 05 Av 1193 (19 tahun)
Alignment: Neutral Good
Appearance: Rambut peach dengan ujung gradasi biru-ungu-hijau terang, senada dengan warna matanya. Memakai kacamata frame bulat berwarna coklat. Tinggi 120 cm.
Lines & Veils:
Noe terlahir dengan achromatopsia, sebuah kondisi yang membuatnya tidak dapat melihat warna. Dunia yang ia kenal hanyalah hitam, putih, dan abu-abu. Ironisnya, ia justru sangat mencintai seni lukis. Karena tidak bisa mengandalkan persepsi warna seperti seniman lain, Noe menutupi kekurangannya dengan mempelajari teori, teknik, dan berbagai detail yang dapat memperbaiki karyanya. Namun, meski telah berusaha keras, ia terus mendengar bahwa dirinya tidak akan pernah berhasil di dunia seni karena kondisinya.
Salah satu orang yang selalu mendukungnya adalah Shinji, sahabatnya yang merupakan seorang artificer asal Rumi Qullqi yang menciptakan kacamata khusus untuk membantu Nonoe membedakan objek dengan lebih baik.
Di tengah perjalanan Noe ke Qorikancha Lumi, ia mendengar alunan lute yang dimainkan oleh seorang pengembara bernama Tōma. Saat mendengarkan musik itu, sesuatu yang mustahil terjadi. Noe tidak hanya mendengar nada-nadanya, tetapi juga melihatnya sebagai warna-warna yang menari di udara. Pada saat itulah sihir yang selama ini tertidur dalam dirinya terbangun. Untuk pertama kalinya, ia dapat melihat warna, bahkan dengan intensitas yang jauh melampaui manusia biasa.
Tōma hanya mengatakan bahwa kekuatan itu sebenarnya telah ada dalam diri Noe sejak awal. Potensi seorang Bard College of Lore tidak muncul saat itu, melainkan baru menemukan pemantiknya. Setelah pertemuan tersebut, Noe akhirnya memahami mengapa orang-orang begitu mengagumi pelangi. Ia mulai percaya bahwa di langit atas sana terdapat dunia yang jauh lebih berwarna daripada tempatnya berpijak sekarang.
Sejak hari itu, Noe mulai sesekali melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain: warna-warna yang menyelimuti orang-orang di sekitarnya. Ia tidak tahu apa arti warna-warna itu. Beberapa terasa hangat seperti sinar matahari, sebagian berubah-ubah seperti langit sebelum hujan, dan sisanya begitu asing hingga membuatnya penasaran berhari-hari.
Alih-alih bertanya kepada sang pemilik, Noe memilih untuk mengumpulkan dan menganalisisnya sendiri.
Maka ia melanjutkan perjalanannya, menjelajahi dunia demi menemukan lebih banyak warna, lebih banyak cerita, dan lebih banyak keajaiban yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Setiap orang yang ditemuinya adalah warna baru untuk dipahami; setiap kisah adalah sapuan cat baru pada kanvas dunia yang dulu hanya tampak abu-abu di matanya.
Pada akhirnya, yang menjadikan Noe seorang Bard dari College of Lore bukanlah bakat sihirnya, melainkan rasa ingin tahunya yang tak pernah terpuaskan. Ia ingin memahami dunia dalam segala warnanya, dan suatu hari nanti, mencapai langit penuh pelangi yang telah lama ia impikan.
"Ever since I learned what colors were, people have never stopped surprising me."
