© 2026 WestMarches.games
Gold:
85
Reputation:
2
Species:
Elf Drow
Class:
Wizard
Completed:
1
Most recent:
14 hours ago
Species: Elf Drow
NPC Must Alive: Varen Eldrava (Adoptive Father), Seraphine Valthor (Mother)
Asal Karakter: Citlaltepec
Tanggal Lahir / Age: 24 Adar, 22
Alignment: Neutral Good
Lines & Veils: Fine with Everything
Appearance:
Perempuan berkulit biru gelap dengan rambut putih panjang dikepang longgar. Matanya menyala merah tua, telinganya runcing warisan darah Drow ibunya.
Backstory:
Tumbuh di kota pengetahuan punya keuntungan besar. Sylthara kecil bebas masuk perpustakaan akademi, duduk mendengarkan para pujangga mendongeng, dan diam-diam menyelinap ke observatorium malam hari untuk menatap langit bersama ayahnya.
Dari Varen dia mewarisi keingintahuan tanpa batas keinginan memahami sesuatu sampai ke akarnya, kebiasaan mencatat segalanya, dan keyakinan bahwa tidak ada pertanyaan yang terlalu kecil untuk ditanyakan.
Dari Seraphine dia mewarisi disiplin dan kewaspadaan kemampuan membaca situasi, tidak sembarangan percaya, dan menyelesaikan apa yang sudah dimulai sampai tuntas.
Di akademi dia bukan murid terbaik secara teknis, tapi selalu yang paling gigih. Gurunya sering frustrasi karena Sylthara lebih suka mengejar pertanyaan baru daripada menyelesaikan pelajaran yang ada tapi tidak bisa menyangkal bahwa setiap pertanyaan yang dia kejar selalu menghasilkan sesuatu yang menarik.
Sebagai drow elf dia terbiasa dengan tatapan waspada dari orang asing. Di Citlaltepec yang kosmopolitan itu tidak separah di tempat lain tapi tetap ada. Sylthara belajar dari ibunya untuk tidak membiarkan tatapan orang mengubah caranya berjalan di ruangan.
Memori masa kecil yang paling dia ingat: ayahnya membawanya duduk di gurun pinggiran kota malam hari, menunjuk langit, dan berkata
"Setiap batu yang jatuh dari sana membawa cerita dari tempat yang kita belum punya namanya. Tugasmu bukan menemukan semua jawabannya, Syl. Tugasmu adalah terus bertanya."
Sylthara tidak pernah berniat jadi wizard. Sihir baginya awalnya hanya alat cara membantu ayahnya menganalisis sampel meteorit, cara membaca tulisan kuno yang ditemukan di reruntuhan gurun, cara menjangkau tempat yang tangan biasa tidak bisa capai.
Tapi semakin dalam dia belajar, semakin dia sadar bahwa sihir dan ilmu pengetahuan di Citlaltepec adalah hal yang sama. Observatorium menggunakan mantra untuk memperbesar jarak pandang. Laboratorium menggunakan sihir untuk menganalisis komposisi mineral. Bahkan pemujaan Ilu-Qhapaq memakai ritual yang secara teknis tidak berbeda dari sihir transmutasi.
Dia belajar formal di akademi, tapi sebagian besar pengetahuannya datang dari spellbook Varen yang selalu terbuka di meja kerja ayahnya — penuh coretan, revisi, dan catatan pinggir yang kadang lebih panjang dari isi utamanya. Varen tidak secara resmi mengajarinya, tapi membiarkan Sylthara membaca, bertanya, dan kadang mencoba sendiri di bawah pengawasannya.
Saat Sylthara hampir menyelesaikan studi formalnya di akademi, Varen mendapat penugasan riset besar — menelusuri pola jatuhnya meteorit yang selama bertahun-tahun dia catat, yang semuanya mengarah ke satu titik koordinat di wilayah yang belum terpetakan di luar Citlaltepec. Dia berangkat dengan tim kecil dan berjanji pulang dalam tiga bulan.
Tiga bulan berlalu. Tidak ada kabar.
Seraphine tidak panik di luar — tapi cara dia mengasah pisaunya setiap malam berubah. Lebih lama. Lebih keras. Sylthara tahu itu artinya ibunya juga mulai khawatir. Bulan keempat, surat terakhir dari tim Varen tiba — dikirim dari pos persinggahan terakhir sebelum mereka masuk ke wilayah tak bertanda. Isinya singkat, tulisan tangan Varen:
"Koordinatnya benar. Ada sesuatu di sana. Kami masuk besok pagi. Doakan kami."
Seraphine ingin pergi sendiri menyusul. Sylthara tidak mengizinkan — atau lebih tepatnya, mereka berdebat keras selama dua hari sampai akhirnya sepakat bahwa Sylthara yang pergi karena Seraphine punya informasi kontak di Citlaltepec yang mungkin dibutuhkan kalau ini berujung pada sesuatu yang lebih besar.Seraphine tidak melarang. Hanya memberikan sebilah pisau pendek miliknya dan berkata
"Jangan percaya apapun yang kamu temukan di kegelapan sampai kamu bisa menyentuhnya. Dan jangan mati sebelum kamu pulang."
Sylthara membawa spellbook-nya sendiri, bekal secukupnya, dan satu jurnal kosong siap diisi dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang belum punya jawaban.