Ia sering mempermalukan tutor kerajaan, menantang bangsawan lain, dan terlibat berbagai masalah akibat sifat kompetitifnya yang berlebihan.
Karena dianggap terlalu liar untuk menjadi calon sultan, ayahnya akhirnya mengirim Fatih jauh ke timur menuju sebuah monastery academy legendaris di pegunungan Tiongkok—tempat para warrior monk, strategist, dan jenderal besar dilatih.
Tujuannya sederhana:
membentuk disiplin dan menghancurkan egonya.
Namun akademi tersebut justru membuat Fatih berkembang semakin cepat.
Di sana ia mempelajari:
Meski tetap dikenal sebagai murid paling bermasalah di akademi, bakatnya dalam duel dan kepemimpinan membuat banyak master mulai melihat potensi besar dalam dirinya.
Kini, setelah menyelesaikan pelatihannya di usia muda, Fatih memilih meninggalkan akademi untuk menjelajahi dunia sebagai seorang adventurer sebelum suatu hari kembali untuk mengambil tempatnya sebagai pewaris kekaisaran.