“Tapi Ibu cinta, kan?” godaku.
“Y-ya, mau gimana lagi…” jawabnya dengan pipi yang memerah, walau toh seluruh tubuhnya merah.
Aku tumbuh dalam keluarga yang… terlalu sempurna. Hangat, penuh tawa, tanpa konflik berarti. Ayahku sangat mencintai Ibuku, begitupun sebaliknya. Tetanggaku ramah, paman-pamanku yang menyenangkan, dan semua orang tampak selalu menikmati keberadaanku. Sejak kecil aku sudah diajari musik, bernyanyi, dan bagaimana tampil di depan banyak orang. Semua itu terasa… natural bagiku.
Aku berkembang dengan sangat baik.
Semakin aku bertambah usia, semakin jelas juga satu hal: aku berbeda. Bukan karena darah campuran dalam diriku, tapi karena… ya, lihat saja aku. Orang-orang selalu memperhatikanku. Mereka selalu begitu. Kadang mereka mencoba menyembunyikannya, tapi itu justru membuatnya lebih jelas.
Sungguh lelah menjadi lelaki tampan… .*
Sekarang, aku mengikuti jejak ayahku. Bermain musik di tavern-tavern, tapi sebagai solois. Lebih fokus. Lebih elegan. Lebih… berkelas. Dan tentunya lebih tenar.
Dan benar saja. Malam itu, setelah salah satu penampilanku yang, seperti biasa, luar biasa, seseorang mendatangiku.
Seorang pria dengan seragam formal yang begitu rapi. Berwajah lumayan tampan, mungkin satu tingkat di bawahku. Belum pernah aku menemukan orang tampan lain selain diriku.
“Kamu sangat berbakat,” katanya.
“Memang benar,” jawabku.
Dia mengenalkan dirinya sebagai Oou. Seorang ksatria sepertinya, atau setidaknya terlihat begitu. Dia membicarakan sebuah tawaran. Sebuah guild. Dari caranya memandangiku, itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Ia tidak hanya sedang menawarkan sesuatu. Ia sedang berusaha meyakinkanku untuk bergabung.*
Masuk akal. Pita suara emasku ini ternyata tidak hanya bisa memikat para gadis, tapi seorang ksatria juga.
Aku hanya tersenyum kecil. “Aku akan mempertimbangkannya.”
Aku membiarkannya menunggu. Sedikit. Hanya untuk memastikan dia benar-benar mengerti nilai dari apa yang ia tawarkan… dan siapa yang sedang ia ajak bicara.
Beberapa hari kemudian, aku datang ke alamat yang tertera di kartu namanya.
Bukan karena aku butuh guild itu.
Tapi karena… kurasa dunia di luar sana sudah cukup lama menantiku.
Dan mungkin sudah saatnya aku mulai muncul.
~marc
side note:
*marc emang pd mampus dengan ketampanannya
*dia menulis dengan hiperbola, sebenarnya Oou tidak terlihat begitu terkesan pada Marc