Sepanjang hidup Norah dihabiskan membantu prosesi pemakaman; dari pemilihan peti, merias mayat, hingga penyusunan proses 'berpulang'. Dari sini, Norah banyak mendengar cerita orang-orang yang ditinggalkan orang terkasih mereka. Ia menjadi sedikit melankolis karena hal itu....
Beda dari kesannya sebagai wanita melankolis yang anggun, Norah sebetulnya menyenangi olahraga dan seni bertarung. Baginya, setidaknya, seorang pemuja Maha Agung tidak boleh hanya mengandalkan Dewa mereka; mereka harus berdikari dengan tangan dan kaki mereka sendiri.