Namun penderitaannya belum berakhir.
Saat kembali ke tanah kelahirannya, ia mendapati rumahnya telah hancur. Para pasukan Dewa telah membumihanguskan desanya dan membunuh kedua orang tuanya. Dunia Reiner runtuh dalam sekejap. Dari abu dan darah, hanya satu hal yang tersisa dalam hatinya: dendam.
Dengan wajah yang terbakar dan hati yang membeku, Reiner meninggalkan tanah kelahirannya. Ia bersumpah untuk membunuh setiap Dewa yang ditemuinya, tidak peduli konsekuensinya. Baginya, para Dewa bukanlah makhluk suci—mereka adalah penjagal yang pantas dimusnahkan.
Dalam pengembaraannya, Reiner bertemu dengan seorang manusia setengah Dewa bernama Jason. Jason sedang mengumpulkan manusia dan makhluk non-manusia untuk membentuk kelompok perlawanan melawan para Dewa. Kelompok itu dikenal sebagai Argonauts.
Jason memiliki sifat yang kekanak-kanakan, namun karismatik dan penuh jiwa kepemimpinan. Di balik sikap santainya, ia memiliki tekad kuat untuk menumbangkan para Dewa. Aura kepemimpinannya mampu menarik berbagai ras dan bangsa untuk mengikuti perjuangannya.
Reiner, yang dipenuhi kebencian dan dendam, akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Jason dan Argonauts. Awalnya ia hanya melihat Jason sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Namun seiring waktu, keduanya membangun ikatan yang lebih kuat dari sekadar rekan seperjuangan—ikatan yang bahkan lebih erat dari saudara seperangannya dahulu.
Kini, Reiner bukan lagi sekadar pemburu dari bangsa Frost Giant.
Ia adalah panah pembawa pembalasan.
Dan para Dewa adalah targetnya.