Ia tumbuh tanpa kasih hanya dalam bayang-bayang tatapan dingin Hingga akhirnya demi menjaga nama dan “kemurnian” garis keturunan, ia dibuang begitu saja ke dunia luar sebelum cukup umur untuk memahami mengapa dirinya tak pernah dicintai.
Di lingkungan kumuh penuh kriminal, Caelum belajar bertahan hidup dengan cara paling keras. Tubuhnya menjadi alat untuk menghasilkan uang di arena pertarungan ilegal. Luka demi luka ia terima, namun setiap malam ia menyembuhkan dirinya sendiri dengan Healing Hands. Cahaya baginya bukan simbol harapan, melainkan sekadar alat agar bisa bangkit kembali keesokan hari dan bertarung lagi demi sekeping koin.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Lunafreya, seorang human cleric sederhana yang mengabdikan hidupnya untuk mengobati rakyat jelata di lorong-lorong kumuh. Ia tidak memandang Caelum sebagai kegagalan, melainkan sebagai anak yang terluka.
Lunafreya melihat bakat penyembuhan dalam dirinya dan mengajaknya belajar, membimbingnya bukan hanya sebagai murid, tetapi sebagai adik yang tak pernah ia miliki. Untuk pertama kalinya, Caelum merasakan arti keluarga. Perlahan ia belajar bahwa kekuatan untuk menyembuhkan orang lain memberikan makna yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan menyembuhkan dirinya sendiri."