Gold:
102
Species:
Dragonborn
Class:
Druid
Completed:
5
Most recent:
1 month ago
The Collector
◆ ◇ ◆
I — The Collector
Saf-Nari adalah entitas dari luar dimensi mana pun yang dikenal makhluk hidup. Ia telah mengunjungi banyak dunia, bahkan ia tidak tahu lagi. Yang ia tahu adalah segalanya: setiap perjalanan, setiap wajah, setiap benda yang pernah ia kumpulkan tersimpan utuh di dalam ingatannya seperti ukiran di batu. Namun setiap kali ia melintasi batas antar dimensi, kekuatannya tertinggal sepenuhnya. Ia selalu tiba kosong.
Di setiap dunia, tugasnya sama: kumpulkan sepuluh ribu benda, masukkan ke dalam Dimensi Genggam, dan baru kemudian ia boleh pergi. Benda apa pun bisa masuk ke sana — namun tidak ada satu pun yang bisa keluar. Tidak oleh siapa pun. Tidak oleh kekuatan apa pun. Bahkan tidak oleh Saf-Nari sendiri. Sekali masuk, selamanya akan tertelan.
Saf-Nari tiba di dunia ini sebagai kesadaran murni — tak terlihat, tak terasa, tak bisa menyentuh apa pun. Sebelum satu benda pun bisa dikumpulkan, ia butuh tubuh. Ini bukan hal baru baginya. Ia sudah melakukannya berkali-kali, dan ia sudah sangat ahli: tahu persis apa yang ia cari, tahu persis bagaimana menemukannya.
Yang ia butuhkan bukan yang terkuat. Yang ia butuhkan adalah yang paling tahu tentang dunia ini — seseorang yang pengetahuannya bisa menjadi peta, dan tubuhnya bisa menjadi kendaraan.
Tidak butuh waktu lama. Di kota tua bernama Vici City, satu nama terus muncul: seekor naga bernama Haku, yang menghabiskan hidupnya mempelajari setiap sudut kota ini dengan ketelitian yang tidak dimiliki oleh siapa pun — dan yang tidak pernah ingin bertarung dengan siapa pun.
Sempurna.
Haku adalah naga yang lebih sering memegang pena daripada cakarnya sendiri. Ia tinggal sendirian di bagian selatan Vici City, dikelilingi Buku-Buku dan catatan tentang dunia yang ia cintai. Ia tidak berbahaya. Ia tidak ambisius. Ia hanya ingin tahu — dan itu menjadikannya kandidat yang sempurna.
Saf-Nari tidak membuang waktu. Ia telah melakukan ini terlalu sering untuk merasa ragu.
Malam itu, ketika Haku sedang mencatat sesuatu di mejanya, Saf-Nari masuk. Bukan lewat pintu. Bukan lewat jendela. Ia masuk seperti yang selalu ia lakukan — meresap langsung ke dalam kesadaran Haku dan mendorongnya ke satu sudut yang sangat kecil.
Tubuh Haku bergetar sebentar. Kemudian berhenti. Kemudian bergerak lagi — namun kali ini bukan Haku yang menggerakkannya.
Kepalanya berubah. Di mana seharusnya ada moncong naga, kini melayang sebuah bola orb — bercahaya redup dari dalam, permukaannya seperti kaca hidup, berputar sangat perlahan seolah sedang menyimpan sesuatu yang besar. Di sanalah Haku sekarang: terjebak di dalamnya, masih bisa melihat dan merasakan segalanya, namun tidak bisa menggerakkan satu pun bagian dari tubuhnya sendiri.
Orb itu adalah pintu masuk Dimensi Genggam. Setiap benda yang disentuh Saf-Nari akan melayang ke sana, meresap ke permukaannya, dan menghilang selamanya.
"Aku masih bisa mencium bau tinta di mejaku. Tapi kakiku sudah berjalan ke arah yang tidak pernah aku pilih."
Keesokan paginya, sosok naga dengan kepala orb berjalan keluar dari distrik selatan. Warga Vici City yang melihatnya tidak terlalu terkejut. Kota ini sudah terlalu tua untuk kaget.
Sebuah kancing logam di celah batu jalan. Saf-Nari memungutnya. Orb bersinar sebentar. Kancing itu melayang, menyentuh permukaan bola, dan lenyap.
Satu.
Sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan lagi. Saf-Nari sudah pernah ada di sini sebelumnya — bukan di kota ini, bukan di dunia ini, namun di momen ini: langkah pertama dari perjalanan yang terasa mustahil di awal dan selalu selesai di akhir.
Ia mulai berjalan, Baru dua blok dari distrik selatan, Saf-Nari berhenti.
Ia menyapu pandangannya ke sekeliling — bukan karena ragu, tapi karena mencari. Di kios logam bekas di ujung jalan, ada helm tua tergantung sendirian di antara barang-barang yang tidak lagi diinginkan siapa pun. Besi gelap, sedikit berkarat di tepinya, ukurannya jauh lebih besar dari helm biasa.
Cukup.
Saf-Nari berjalan ke sana. Membayar dengan koin yang ia temukan di saku tubuh Haku. Memakai helm itu.
Orb tertutup. Cahayanya padam dari pandangan.
Ia tidak berdiri lebih lama dari yang perlu. Di dunia-dunia sebelumnya, langkah ini selalu sama: tutup yang mencolok, lanjutkan yang penting. Tidak ada ritual. Tidak ada jeda. Hanya urutan yang sudah ia hafal lebih baik dari namanya sendiri.
Ia melanjutkan langkah — kali ini ke utara, ke arah yang sudah ia tentukan bahkan sebelum helm itu terpasang. Guild petualang. Tempat di mana benda-benda berpindah tangan, di mana orang-orang membawa pulang hal-hal yang tidak mereka butuhkan, dan di mana tidak ada yang akan bertanya terlalu banyak tentang seseorang yang hanya ingin berjalan di sekitar.
Tempat yang efisien.
Di tengah perjalanan, di jalan batu yang sepi, Saf-Nari berbicara.
Bukan keras. Tidak perlu keras — suaranya langsung menyentuh sudut kecil di dalam orb tempat Haku terjebak, seperti bisikan yang tidak punya jarak.
"Aku tahu kau masih di sana. Aku tidak mengharapkan kau diam — aku hanya mengharapkan kau mendengar."
Ia tidak memperlambat langkahnya.
"Aku meminjam tubuhmu. Itu fakta yang tidak akan berubah. Tapi aku tidak meminjamnya tanpa harga." Satu jeda — bukan karena ragu, tapi karena ia memilih kata dengan cara yang sama ia memilih benda: tepat, tidak lebih. "Ketika ini selesai, aku akan mengembalikan tubuhmu utuh. Dan sebagai imbalannya — kekuatan yang kau tidak punya sekarang, dan pengetahuan yang tidak bisa kau temukan di buku mana pun di kota ini. Aku sudah ada di tempat-tempat yang belum punya nama di duniamu."
Langkahnya tidak berubah. Suaranya tidak berubah.
"Aku tidak memintamu percaya. Aku hanya menawarkan. Kau bisa memilih bekerja bersamaku — atau kau bisa diam di sudut itu sampai semuanya selesai. Dua-duanya tidak mengubah apa yang akan terjadi. Tapi satu di antaranya lebih berguna untuk kita berdua."
Di dalam orb, Haku mendengar semuanya.
Ia tidak menjawab. Belum. Tapi ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya — bukan kepercayaan, bukan penerimaan, tapi sesuatu yang lebih dekat ke rasa ingin tahu yang tidak bisa ia matikan meski ingin. Tempat-tempat yang belum punya nama. Kalimat itu menempel di kesadarannya seperti debu di halaman buku yang baru dibuka.
Ia benci betapa cepatnya kalimat itu bekerja.
Guild petualang sudah terlihat di ujung jalan — bangunan lebar dengan papan kayu tua di atasnya, ramai dengan suara dari dalam. Saf-Nari tidak memperlambat langkah.
Ada banyak benda di sana. dan perjalanan pun dimulai
| barang yang harus terkumpul | barang yang baru terkumpul |
|---|---|
| 10.000 | 254 |
yah mati ni karalter btw si saf-narinya di culik