Suatu malam, Joe duduk di samping tempat tidur Amelia.
Amelia tersenyum lemah.
"Joe."
"Hm?"
"Kalau aku sembuh..."
Joe menggenggam tangannya.
"Kalau?"
Amelia tertawa kecil.
"Jangan potong pembicaraanku."
"Maaf."
"Kalau aku sembuh... aku ingin melihat seluruh Alola bersamamu."
Joe terdiam.
Kemudian ia tersenyum.
"Kita akan pergi."
"Janji?"
"Janji."
Amelia menutup matanya.
"Kalau begitu... aku akan menunggumu."
Beberapa hari kemudian, Joe menemukan sebuah catatan tua. Catatan itu berbicara tentang sebuah Pokémon misterius. Sebuah Pokémon yang menghasilkan racun dengan sifat aneh. Racun itu dapat digunakan sebagai penawar penyakit tertentu. Namun racun tersebut terlalu berbahaya untuk digunakan secara langsung. Ia harus dinetralkan terlebih dahulu. Dan tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana caranya. Tidak ada lokasi yang pasti. Tidak ada penelitian lengkap. Tidak ada jaminan bahwa obat tersebut benar-benar ada. Tetapi bagi Joe, satu kemungkinan sudah cukup.
Malam itu ia kembali ke kamar Amelia. Ia duduk di samping tempat tidurnya dan menggenggam tangannya.
"Aku akan pergi."
Amelia membuka mata.
"Ke mana?"
"Mencari obatmu."
Amelia tersenyum sedih.
"Joe... jangan lakukan sesuatu yang berbahaya hanya untukku."
Joe menatapnya.
Untuk pertama kalinya, wajah pemuda yang selalu terlihat tenang itu menunjukkan ketakutan.
"Aku tidak takut pada racun."
Ia menggenggam tangan Amelia lebih erat.
"Aku takut kehilanganmu."
Sejak hari itu, Joe memilih jalan yang berbeda. Ia mengambilPath Type Master. Ia memutuskan untuk menjadi seorang Poisoner. Bukan pembunuh. Bukan peracik racun. Melainkan seseorang yang memahami racun lebih dalam daripada siapa pun. Ia mempelajari setiap Pokémon Poison yang ia temui. Ia belajar dari Zubat mengenai racun dan kehidupan di dalam gua. Ia belajar dari Varoom mengenai gas dan toksin. Ia belajar membuat antidote. Ia belajar bagaimana mengambil racun tanpa melukai Pokémon. Dan setiap kali ia menemukan racun baru, ia menuliskannya di dalam buku catatan hitam miliknya.
Namun di halaman pertama buku itu tidak terdapat formula. Tidak ada nama Pokémon. Tidak ada penelitian. Hanya satu kalimat.
"Aku akan menemukan racun yang bisa menyelamatkanmu."
Hari-hari berlalu. Joe semakin kuat. Namun Amelia semakin lemah. Setiap perjalanan yang Joe lakukan selalu memiliki satu tujuan. Menemukan Pokémon misterius itu. Terkadang Joe pulang dengan luka. Terkadang ia pulang tanpa hasil. Tetapi setiap kali kembali ke Poni, ia selalu menemui Amelia. Dan setiap kali Amelia bertanya,
"Sudah menemukannya?"
Joe selalu tersenyum.
"Belum."
Lalu Amelia akan menjawab,
"Kalau begitu, jangan menyerah."
Suatu malam, mereka duduk bersama di bawah langit penuh bintang.
Varoom tertidur tidak jauh dari mereka. Amelia menyandarkan kepalanya di bahu Joe.
"Joe."
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti kau menemukan obatnya..."
Joe menoleh.
"Ya?"
"Jangan lupa..."
Amelia tersenyum.
"...kita masih punya janji."
Joe terdiam. Ia tahu janji yang dimaksud melihat seluruh Alola bersama, menjelajahi pulau-pulau, melihat lautan, mencari Pokémon, dan menjalani kehidupan yang selama ini mereka impikan.
Joe kemudian menggenggam tangan Amelia.
"Aku tidak lupa."
Ia menatap langit.
"Aku bahkan mengingatnya setiap hari."
Amelia tersenyum.
Dan untuk sesaat, penyakit itu terasa tidak ada hanya ada dua anak muda di bawah langit Poni Island. Satu sedang sakitdan yang satu lagi sedang mencari obat.Namun keduanya masih memiliki harapan. Karena Joe telah memilih jalan yang penuh racun. Bukan karena ia mencintai racun melainkan karena ia mencintai seseorang yang ingin ia selamatkan. Dan selama masih ada satu kemungkinan Joe akan terus berjalan. Sebab bagi dirinya, tidak ada racun yang terlalu berbahaya. Tidak ada perjalanan yang terlalu jauh. Dan tidak ada harga yang terlalu mahal. Jika pada akhirnya semua itu dapat membawa Amelia kembali kepadanya.