Ada kalanya, berhenti berlari jauh lebih membutuhkan keberanian daripada terus melangkah. Dan di atas tanah berlumpur inilah, sebuah kisah tentang keteguhan hati dimulai.
Dunia megah itu runtuh. Perang sihir global memusnahkan empat kerajaan besar: Semanggi, Diamond, Heart, dan Spade. Yang tersisa hanya gurun mati, monster mutasi, dan ksatria sihir yang gila.
Namun, hidup harus berlanjut.
Di ambang kepunahan, panglima nomaden bernama Sūmû-abum mengambil keputusan paling berani: berhenti berlari. Ia memimpin sukunya turun ke lembah rawa Sungai Efrat yang kotor dan berlumpur. Di hadapan tangisan rakyatnya, ia menancapkan tombak ke bumi dan mendeklarasikan sebuah nama: Babilonia.
Peradaban dibangun di atas peluh dan air mata. Kalian adalah anak muda terbaik suku—garda terdepan pemikul harapan ribuan nyawa. Diutus ke jantung rawa Efrat, tugas kalian adalah mengamankan pembakaran bata pertama Babilonia dari ancaman sisa Ksatria Sihir Semanggi yang telah gila. Sebab di dunia yang mati ini, sepotong bata lumpur jauh lebih berharga daripada grimoire sihir terkuat sekalipun.
"Apakah kelak kita akan diingat sebagai generasi yang menyerah pada takdir, atau sebagai mereka yang berani memahat harapan di atas lumpur berdarah? Saat empat kerajaan besar runtuh menjadi debu ego manusia, Sūmû-abum mengajarkan kita satu hal: bahwa rumah bukanlah tentang seberapa megah atapnya, melainkan tentang seberapa kuat kita bertahan bersama orang-orang yang kita cintai. Selamat datang di hari pertama Babilonia. Sebuah perjalanan tentang pulang, tentang bertahan, dan tentang esok hari yang lebih baik."
Atropa DellaDonna