Dilanda amarah dan kesedihan Zilka melawan dan berhasil membunuh salah satu penyerang namun satu yang lain berhasil melarikan diri ke dalam kegelapan malam. Para penjaga kota datang setelah kejadian itu namun alih-alih melihat seorang korban mereka melihat seorang changeling berdiri di antara mayat-mayat manusia sehingga prasangka mengambil alih logika dan tanpa penyelidikan yang adil Zilka dijadikan tersangka. Ia ditangkap dihakimi dan dijebloskan ke dalam penjara.
Selama bertahun-tahun di balik jeruji besi Zilka menghadapi kehilangan kemarahan dan ketidakadilan yang terus menghantuinya. Ia belajar menahan emosi mengamati dan bertahan hidup sehingga dunia mengajarkannya bahwa kebenaran tidak selalu penting yang penting adalah siapa yang dipercaya. Ketika ia akhirnya dibebaskan dunia yang ia kenal sudah berubah dan tanpa tujuan yang jelas ia sempat terjerumus ke dalam dunia gelap yang penuh bayangan kebohongan dan identitas palsu. Di sana kemampuannya sebagai changeling menjadi alat untuk bertahan hidup sehingga ia belajar menyamar menipu dan menghilang tanpa jejak.
Dalam dunia itu ia memahami bahwa wajah hanyalah topeng dan pada akhirnya ia benar-benar mengenakan topeng bukan hanya untuk menyembunyikan wajahnya tetapi juga untuk menyembunyikan dirinya yang lama karena dunia tidak pernah peduli siapa Zilka sebenarnya. Namun ia tetap menyimpan satu hal yang tidak pernah ia lepaskan yaitu anting bulan sabit di telinganya yang menjadi simbol dari masa lalu dan keluarga yang pernah ia miliki. Di dalam dirinya masih tersisa sebuah harapan bahwa ia akan memenuhi mimpi Reulif menjadi seorang petualang dan menemukan kebenaran di balik serangan orang-orang misterius malam itu karena bagi Zilka ini bukan hanya tentang masa lalu tetapi juga tentang pencarian jati diri dan perburuan yang belum selesai.