“Di Solgard, yang dianggap murni bukanlah mereka yang benar—hanya mereka yang cukup cocok untuk terlihat benar.”
Ketika bergabung dengan Dawnseeker, keyakinan itu semakin terkikis. Guild tersebut bergerak di balik kejayaan Radiant Empire, menangani hal-hal yang tidak bisa diselesaikan dengan pidato suci dan simbol-simbol kemurnian. Dari sana, Susei melihat wajah lain dari kekaisaran yang selama ini diagungkan. Ia melihat orang-orang dihukum bukan semata-mata karena kesalahan mereka, tetapi karena mereka berbeda. Ia melihat bagaimana hukum berlaku keras terhadap mereka yang lemah, namun lunak terhadap mereka yang memiliki kuasa. Dan ia melihat bagaimana semua itu selalu dibenarkan atas nama cahaya.
Semakin lama, ia memahami bahwa cahaya di Radiant Empire bukan hanya lambang harapan—tetapi juga alat untuk menentukan siapa yang layak diterima dan siapa yang layak disingkirkan. Yang paling mengerikan bukanlah kekejaman itu sendiri, melainkan bagaimana semua orang percaya bahwa kekejaman itu adalah kebenaran.
“Fanatisme paling berbahaya bukan yang lahir dari kegelapan, tapi yang tumbuh di bawah cahaya dan disebut kebajikan.”
Dari pengalaman itulah Susei mulai belajar melihat apa yang luput dari orang lain. Ia memperhatikan hal-hal kecil—keraguan di balik kata-kata tegas, kebohongan di balik wajah yang tampak tulus, dan kepentingan tersembunyi di balik keputusan yang disebut adil. Saat orang lain menerima segala sesuatu sebagaimana terlihatnya, Susei justru melihat retakan di baliknya. Ia belajar bahwa orang-orang yang paling lantang berbicara soal kemurnian sering kali adalah mereka yang paling takut jika kebusukan mereka terlihat.
Kemampuan itu membuatnya memahami satu hal yang tak pernah diajarkan di Solgard: bahwa tidak ada sesuatu yang sepenuhnya putih. Bahkan cahaya yang paling terang tetap bisa menyembunyikan bayangan, dan mereka yang mengaku membawa kebenaran bisa menjadi orang yang paling kejam saat merasa dirinya tidak mungkin salah.
“Semakin terang sesuatu terlihat, semakin hati-hati aku mencari bayangan di belakangnya.”
Kini Susei masih hidup di bawah panji yang sama, masih berjalan di tanah yang dipenuhi cahaya yang diagungkan banyak orang. Namun, ia tidak lagi melihat cahaya itu sebagai simbol kebenaran mutlak. Ia tahu bahwa keadilan bisa dipakai sebagai alasan untuk menindas, bahwa kemurnian bisa dijadikan alasan untuk membenci, dan bahwa fanatisme bisa tumbuh subur justru di tempat yang mengaku paling suci.
Ia belum tahu bagaimana mengubah semua itu. Ia masih bagian dari dunia yang sama, masih hidup di bawah sistem yang sama, dan masih membawa pedang untuk bertahan di dalamnya. Namun, satu hal yang pasti: ia menolak mempercayai bahwa terang selalu berarti benar.
Karena setelah melihat bagaimana cahaya digunakan untuk membenarkan ketidakadilan, Susei percaya bahwa kebenaran sejati bukanlah memilih antara terang dan gelap, tetapi berani mengakui bahwa keduanya sama-sama mampu melahirkan kebusukan.
“Mereka takut pada kegelapan karena mengira kejahatan tinggal di sana. Padahal sering kali, kejahatan terbesar berdiri tepat di bawah cahaya dan disebut kebenaran.”