---
Lavie Loveheart lahir di keluarga miskin yang hidup di pinggiran distrik Brindleford Village—tempat di mana hujan bocor dari atap lebih sering datang daripada makanan hangat di meja. Ia adalah anak sulung dari beberapa saudara yang masih kecil, dan sejak usia belia sudah memahami satu hal pahit:
dunia tidak memberi makan orang baik hanya karena mereka bekerja keras.
Ibunya sakit-sakitan. Ayahnya hanyalah buruh kasar dengan penghasilan tak menentu. Maka Lavie, yang sejak kecil terkenal cerdas dan cepat membaca situasi, memilih bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah-rumah bangsawan demi menjaga keluarganya tetap hidup.
Ia menyapu, mencuci, menghidangkan teh, membersihkan noda darah pesta politik para ningrat, dan mendengar—atau lebih tepatnya, mengamati—segala rahasia yang tak seharusnya diketahui seorang pelayan.
Lavie belajar bahwa lidah yang tepat jauh lebih tajam dari pedang.
Ia belajar bagaimana menenangkan nyonya rumah yang histeris, membujuk tuan muda yang arogan, memutarbalikkan percakapan, dan menanamkan sugesti halus hanya dengan pilihan kata. Kata-katanya selalu terasa pas, seolah ia tahu bagian mana dari hati atau pikiran seseorang yang harus disentuh.
Namun kecerdasan itu membawa kutukan:
Lavie terlalu haus akan jawaban.
Mengapa bangsawan sebodoh itu bisa memerintah?
Mengapa orang miskin harus selalu tunduk?
Mengapa manusia menyembunyikan begitu banyak dusta di balik senyum?
Pencarian itu menuntunnya ke ruang bawah tanah perpustakaan tua milik majikan lamanya, tempat sebuah manuskrip hitam disegel dengan doa-doa kuno. Di sanalah ia pertama kali membaca nama yang tak boleh diucapkan terlalu keras:
Bukan dewa yang dipuja secara terbuka. Bukan dewa yang menerima doa dengan lilin dan nyanyian.
Xel'Nari adalah entitas yang menjawab rasa lapar akan jawaban.
Ia mendatangi mereka yang cukup putus asa untuk berkata:
"Aku rela membayar apa pun, asal aku tahu."
Lavie mengucapkan itu.
Dan Xel'Nari menjawab.
Kontrak itu tidak meminta darah.
Tidak meminta jiwa.
Tidak meminta umur.
Xel'Nari meminta sesuatu yang jauh lebih kejam bagi seseorang yang hidup dari kata-kata:
"Suara dunia hanyalah distraksi," bisik sang patron langsung ke dalam pikirannya. "Jika kau ingin mendengar kebenaran, kau harus berhenti mendengar kebisingan."
Saat ritual selesai, dunia Lavie menjadi sunyi.
Ia tak lagi mampu mendengar tawa, tangisan, denting piring, langkah kaki, bahkan suara keluarganya sendiri.
Tetapi sebagai gantinya—
ia mulai mendengar pikiran di balik ucapan.
Bukan telepati penuh.
Melainkan intuisi supranatural, serpihan niat, pola kebohongan, keraguan, rasa takut, ambisi, dan keinginan yang bersembunyi di balik wajah orang lain.
Ia tak lagi mendengar tangisan ibunya.
Tak lagi mendengar gemeretak piring.
Tak lagi mendengar suara hujan.
Namun sebagai gantinya...
ia dapat "membaca" getaran pikiran, perubahan mikro ekspresi, tarikan napas, keraguan sepersekian detik, dan alur logika orang lain dengan tingkat yang nyaris tidak manusiawi.
Lavie tidak mendengar kata-kata.
Ia mendengar maksud.
Sejak saat itu, lidahnya menjadi senjata mematikan.
Ia tahu kalimat mana yang harus dipilih.
Ia tahu rayuan mana yang paling sulit ditolak.
Ia tahu kebohongan mana yang terdengar paling meyakinkan.
Ia tahu ancaman mana yang cukup halus untuk membuat orang menyerah tanpa sadar.
Meski kini memiliki kekuatan dari entitas kosmik, Lavie tidak menjadi penyihir pengembara yang hidup megah.
Karena keluarganya masih lapar.
Maka di siang hari, ia bekerja sebagai maid bayaran di rumah-rumah bangsawan, penginapan elit, atau kediaman diplomat.
Dengan seragam hitam-putih sederhana yang tertutup jubah gelap, serta topeng kelinci putih yang selalu menutupi wajahnya.
Topeng itu awalnya dipakai untuk menyembunyikan bekas ritual di sekitar telinga dan lehernya.
Namun lama-kelamaan, topeng itu menjadi simbol.
Makhluk yang tampak lemah, jinak, dan tak berbahaya—padahal selalu waspada, selalu mengamati, dan bisa berlari lebih cepat dari predator mana pun.
Para majikan mengenalnya sebagai:
"Rabbit Maid."—pelayan yang terlalu tenang, terlalu pintar, dan terlalu pandai membuat tamu-tamu bermasalah menurunkan nada bicara mereka.
Lavie jarang mengangkat suara.
Ia bahkan sering tidak menanggapi bila dipanggil dari jauh.
Tetapi ketika ia berbicara langsung di hadapan seseorang—
orang itu hampir selalu mendengarkan.
Karena entah bagaimana, Lavie selalu menemukan satu titik rapuh pada lawan bicaranya.
Satu kalimat.
Satu senyum tipis dari balik topeng.
Satu bisikan pelan.
Dan negosiasi selesai.
Masalah selesai.
Atau seseorang pulang dengan perasaan bahwa melawan gadis bertopeng kelinci itu adalah keputusan terburuk dalam hidupnya.
--
Sejak hari itu, Lavie menjadi sesuatu yang berbeda.
Masih bekerja sebagai maid.
Masih menyajikan teh.
Masih membersihkan jendela.
Tetapi di balik seragam pelayan lusuhnya, ia mengenakan jubah gelap bertudung dengan telinga kelinci dan topeng kelinci putih tanpa ekspresi saat menjalankan urusan-urusan patronnya di malam hari—mengumpulkan naskah terlarang, menyusup ke percakapan rahasia, memeras informasi, dan menanam benih kegilaan intelektual pada mereka yang terlalu yakin akan kebodohannya sendiri.
Kini Lavie hidup dalam dua dunia.
Siang hari; seorang pembantu rumah tangga profesional yang tenang.
Malam hari; utusan sunyi Xel'Nari, pemburu rahasia, pemanen pengetahuan terlarang.
Dan di antara keduanya, ia tetap membawa satu tujuan sederhana:
memberi makan keluarganya—sambil perlahan memahami seluruh kebusukan dunia.