Di bawah naungan pepohonan Feywild yang megah dan selalu berbianglala, suara alunan harpa dan tiupan seruling adalah nafas kehidupan bagi keluarga besar Kei. Namun, di saat saudara-saudaranya menemukan kebahagiaan dalam ketukan nada dan melodi rahasia para Eladrin, mata Kei justru selalu tertuju pada dentang tembaga yang ditempa dan berkilauannya bilah pedang. Bagi kaumnya yang mengagungkan kelembutan seni murni, ketertarikan Kei pada logam lunak dan kerasnya baja dianggap sebagai keanehan—bahkan celaan yang merusak harmoni keluarga.
Meskipun pandangan dingin dan bisik-bisik meremehkan senantiasa mengiringinya, Kei tidak pernah membenci seni keluarganya. Ia hanya menolak dibatasi olehnya. Dengan ketabahan luar biasa, Kei membakar malam demi malam untuk berlatih secara mandiri. Tangan yang seharusnya hanya memetik dawai mulai membentuk kapalan akibat menggenggam gagang pedang dan membentuk tembaga panas di atas landasan tempa.
Sadar bahwa tempat lahirnya terlalu sempit untuk impian yang besar, Kei akhirnya memutuskan untuk mengembara. Perjalanan melintasi batas Feywild ke alam luar menjadi kanvas barunya. Dalam pengembaraannya, Kei tidak membuang warisan keluarganya, melainkan menyatukannya.
Setiap peluh dan keahlian yang terasah kini menjadi bukti hidup bahwa harmoni sejati tidak hanya lahir dari petikan harpa, tetapi juga dari dentang pedang yang diayunkan dengan dedikasi tinggi