Doanya dijawab.
Cahaya keemasan turun dari langit dan menyelimuti tubuhnya. Simbol suci muncul di dadanya, sementara energi ilahi mengalir melalui darah infernal yang selama ini dianggap sebagai kutukan. Pada malam itu, Seraphel membangkitkan kekuatan penyembuhan dan cahaya suci yang belum pernah disaksikan siapa pun. Para korban yang masih hidup terselamatkan, sedangkan para kultis dipukul mundur oleh sinar yang terpancar dari tongkat sucinya.
Sejak hari itu ia ditahbiskan sebagai seorang Cleric, bukan karena garis keturunan, melainkan karena pilihan para dewa sendiri.
Namun kemenangan itu memiliki harga. Kuil tempat ia dibesarkan hancur, banyak gurunya gugur, dan relik suci yang menjadi sumber kekuatan kuil menghilang bersama pemimpin kultis. Sebelum wafat, Sang High Priest menyerahkan sebuah liontin berbentuk matahari kepadanya.
"Jangan buktikan bahwa seorang Tiefling bisa menjadi pahlawan. Buktikan bahwa cahaya tidak pernah memandang ras."
Seraphel pun meninggalkan rumah yang telah membesarkannya. Ia mengembara dari kota ke kota sebagai pendeta pengelana. Ia menyembuhkan orang sakit tanpa meminta bayaran, memberkati desa-desa yang dilanda wabah, menguburkan mereka yang terlupakan, serta melawan makhluk-makhluk yang mengancam kehidupan orang tak berdosa.
Namun jauh di dalam hatinya masih tersimpan satu tujuan.
Ia memburu kultis yang menghancurkan kuil masa kecilnya dan mencari relik suci yang telah dicuri. Ia percaya bahwa selama relik itu belum ditemukan, ancaman yang lebih besar masih menunggu untuk bangkit.
Bagi banyak orang, tanduk dan ekornya adalah simbol iblis.
Bagi Seraphel, keduanya adalah pengingat bahwa bahkan seseorang yang lahir dari bayang-bayang dapat memilih untuk menjadi cahaya bagi dunia.
Karena iman bukanlah hadiah bagi mereka yang sempurna.
Iman adalah pilihan untuk tetap membawa terang, bahkan ketika seluruh dunia hanya melihat kegelapan.
| Buku Bahasa | Tuntas/Tidak Tuntas |
|---|---|
| Abyssal I | Tuntas |
| Abyssal II | Tuntas |
| Abyssal III | Tuntas |