Gold:
350
Species:
Human
Class:
Bard
Completed:
1
Most recent:
1 month ago
Hosulies adalah seorang pemuda yang berasal dari kota pelabuhan tua bernama ?????, sebuah wilayah kumuh di tepian benua berkabut ?????.
Kota itu dikenal sebagai tempat tanpa hukum, dipenuhi para penipu, pengkhianat, dan orang-orang yang hidup dari kebohongan. Di sanalah Hosulies dilahirkan sebagai anak terbaik yang pernah dibentuk oleh tempat semacam itu.
Lahir tanpa garis keturunan bangsawan, tanpa takdir agung, dan tanpa ramalan yang menjanjikan masa depan istimewa, Hosulies tumbuh dalam kehidupan yang keras dan melarat, seolah dunia sejak awal telah menuliskan penderitaan sebagai bagian dari nasibnya.
Ayahnya bekerja sebagai penulis surat-surat palsu di salah satu distrik pelabuhan, sementara ibunya mencari nafkah dengan menyebarkan kabar bohong kepada para pelaut demi recehan.
Kehidupan semacam itu membuat Hosulies sejak kecil akrab dengan tipu daya, manipulasi, dan seni memelintir fakta.
Meski hidup dari dusta, ironisnya kedua orang tuanya adalah sosok paling jujur yang pernah dikenal Hosulies.
Sejak usia belia, Hosulies telah menunjukkan sesuatu yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa gelisah.
Di saat anak-anak lain masih bermain lumpur dan kayu, ia sudah mampu mengetahui kebohongan seseorang hanya dari gerakan mata, memecah dua pihak menjadi musuh hanya dengan sepenggal kalimat, serta memutarbalikkan keadaan hingga pihak yang bersalah justru dipercaya sebagai korban.
Pada awalnya, semua orang menganggapnya sebagai anak yang jenius.
Namun seiring waktu, kekaguman perlahan berubah menjadi ketakutan.
Sebab mereka mulai menyadari bahwa Hosulies tidak sekadar cerdas ia memahami manusia dengan cara yang bahkan tidak mampu dipahami oleh manusia dewasa sekalipun.
- The Hollow Purge
Pada usia tujuh belas tahun, Hosulies menjadi saksi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah ????? : The Hollow Purge.
Peristiwa itu bermula ketika gereja suci dari kerajaan utara melakukan apa yang mereka sebut sebagai pembersihan dosa terhadap kaum miskin di distrik bawah kota.
Dengan dalih menegakkan kesucian dan keadilan, mereka menyerbu pemukiman tanpa ampun.
Ribuan orang dibantai dan digantung di sepanjang jalan utama sebagai peringatan bagi siapa pun yang dianggap tercemar. Anak-anak dibakar hidup-hidup di hadapan keluarga mereka sendiri, sementara rumah-rumah dibersihkan dengan api suci atas nama keselamatan jiwa.
Namun bagi Hosulies, bagian paling mengerikan dari tragedi itu bukanlah darah yang mengalir di jalanan.
Melainkan bagaimana semuanya bermula.
Tidak dengan ayunan pedang.
Tidak pula dengan dentuman sihir.
Semua itu berawal dari seorang pria berjubah putih yang berdiri di hadapan kerumunan dan menyampaikan sebuah pidato tentang keadilan.
Pidato singkat itu cukup untuk menyalakan fanatisme, mengubah manusia biasa menjadi algojo, dan memberi pembenaran atas pembantaian yang mereka lakukan.
Hari itu, Hosulies menyadari satu hal yang terus ia pegang hingga kini:
“Pedang bukanlah senjata paling berbahaya. Kata-kata itulah yang sebenarnya membunuh.”
Sejak saat itu, konsep tentang kebaikan, kejahatan, keadilan, dan kebenaran kehilangan maknanya di mata Hosulies.
Baginya, semua itu hanyalah alat cerita yang diciptakan manusia untuk membenarkan tindakan mereka sendiri.
Dan sejak hari itulah, kompas moral Hosulies berubah selamanya.