Peristiwa itu bermula ketika gereja suci dari kerajaan utara melakukan apa yang mereka sebut sebagai pembersihan dosa terhadap kaum miskin di distrik bawah kota.
Dengan dalih menegakkan kesucian dan keadilan, mereka menyerbu pemukiman tanpa ampun.
Ribuan orang dibantai dan digantung di sepanjang jalan utama sebagai peringatan bagi siapa pun yang dianggap tercemar. Anak-anak dibakar hidup-hidup di hadapan keluarga mereka sendiri, sementara rumah-rumah dibersihkan dengan api suci atas nama keselamatan jiwa.
Namun bagi Hosulies, bagian paling mengerikan dari tragedi itu bukanlah darah yang mengalir di jalanan.
Melainkan bagaimana semuanya bermula.
Tidak dengan ayunan pedang.
Tidak pula dengan dentuman sihir.
Semua itu berawal dari seorang pria berjubah putih yang berdiri di hadapan kerumunan dan menyampaikan sebuah pidato tentang keadilan.
Pidato singkat itu cukup untuk menyalakan fanatisme, mengubah manusia biasa menjadi algojo, dan memberi pembenaran atas pembantaian yang mereka lakukan.
Hari itu, Hosulies menyadari satu hal yang terus ia pegang hingga kini:
“Pedang bukanlah senjata paling berbahaya. Kata-kata itulah yang sebenarnya membunuh.”
Sejak saat itu, konsep tentang kebaikan, kejahatan, keadilan, dan kebenaran kehilangan maknanya di mata Hosulies.
Baginya, semua itu hanyalah alat cerita yang diciptakan manusia untuk membenarkan tindakan mereka sendiri.
Dan sejak hari itulah, kompas moral Hosulies berubah selamanya.