Gold:
255
Species:
Kalashtar
Class:
Sorcerer/Warlock
Completed:
3
Most recent:
1 month ago
| Date | Location | Current Location | Mission | Mission Status | Additional Notes |
|---|---|---|---|---|---|
| 19 Solis - 21 Solis | Vici City - Sylvaran | Vici City | Sylvaran Needs You | Cleared | "I've suffered worse, but it was an interesting equation. Maybe I need to start to look for some formidable partners up front." |
| 27 Solis - 29 Solis | Vici City - Vici Forest | Vici City | Sealing the Tower | Cleared | "It was a tough equation—there's a lot of old mechanism and language that I don't really know—but thank God there's Abyssal. Majoring it. Sadly though, it feels sour to go with five and go home with two. I respect the turtle dude. He's cool. And I got a new pet, from that Bard. Gotta keep it safe though." |
| 30 Solis - 3 Tidefall | Home | Vici City | No missions. For now, we honor the fallen. | - | "So apparently, I requested a local grave keeper to make some graves for my fallen teammates back in the tower. It was tough—seeing their names carved on an empty casket. Well, at least I brought black roses—don't ask me where I got it from. But then again—that's what adventurer's do, doesn't it? Where there's actions, lies consequences. For now, I'll stay. I'll live. For them. For those who said their first hellos and their last goodbyes to me. It's been fun." |
| 15 Tidefall - 19 Tidefall | Vici City - Locrasta Forest | Vici City | Hunt the Alpha | Cleared | "Well, I thought those wolves were as friendly as that Bard's wolf—well, in my defense, it attacked me first—I think. But hey, I've suffered worse. That wolf pack scrambles away as its alpha were dead. Honestly, that principles still works—kinda surprises me. Now, I'm home—just chilling. I guess." |
| Date | Language | Status |
|---|---|---|
| June 24th | Halfling | Success |
| June 27th | Halfling | Success |
| June 30th | Halfling | Success (Book 1 complete) |
Seumur hidupnya, Syphren Imporem menganggap dirinya cukup biasa—setidaknya untuk ukuran seorang Kalashtar.
Seperti Kalashtar lainnya, pikirannya selalu ditemani oleh kehadiran roh Quori leluhurnya. Bagi banyak orang, konsep berbagi pikiran dengan entitas lain terdengar mengganggu. Namun bagi Syphren, hal itu sama normalnya seperti memiliki teman serumah yang sangat sopan. Ia memiliki pikirannya sendiri, dan di baliknya selalu ada suara lembut yang menawarkan sudut pandang, kebijaksanaan, atau sekadar keheningan yang menenangkan ketika dunia terasa terlalu bising.
Karena kedisiplinan mental alami yang dimiliki bangsa Kalashtar, kehidupan akademiknya berjalan dengan sangat mudah.
Ia diterima di Silverquill Academy dan segera dikenal sebagai salah satu murid yang cemerlang. Esai-esainya selalu tajam. Argumennya sulit dibantah. Puisi dan retorikanya mengalir begitu saja tanpa terlihat dipaksakan. Ketika murid lain begadang karena panik menghadapi ujian, Syphren justru terlihat santai, menikmati proses belajar seperti seseorang yang sedang membaca novel favoritnya.
Ia tidak pernah menjadi murid yang paling ambisius.
Bukan pula yang paling berisik.
Ia hanya... memahami banyak hal.
Dan ketika ada sesuatu yang tidak ia pahami, ia menjadi penasaran.
Rasa penasaran itulah yang akhirnya mengubah seluruh hidupnya.
Pada suatu malam beberapa bulan lalu, Syphren sedang mengerjakan sebuah tesis di halaman akademi. Seperti biasa, ia mendiskusikan argumennya secara mental dengan roh Quori yang telah menemaninya sejak lahir. Percakapan itu terasa normal, nyaman, dan akrab.
Lalu sebuah suara ketiga berdeham dengan sopan.
Bukan teriakan.
Bukan bisikan menyeramkan.
Hanya sebuah suara yang seolah berkata, "Maaf mengganggu, tetapi ada kesalahan kecil pada argumen tersebut."
Keheningan yang menyusul terasa jauh lebih mengganggu daripada kata-kata itu sendiri.
Karena seharusnya tidak ada suara ketiga.
Suara itu tidak terdengar jahat. Tidak pula terdengar marah. Ia terdengar sangat tua, sangat jauh, dan sangat asing. Cara bicaranya tidak mengikuti tata bahasa apa pun yang pernah dipelajari Syphren. Kalimat-kalimatnya terasa seperti pola geometri yang mustahil diterjemahkan menjadi bahasa. Setiap kali suara itu berbicara, Syphren merasakan rasa logam samar di lidahnya dan melihat kilatan bentuk-bentuk yang tampaknya tidak mungkin ada di dunia tiga dimensi.
Dan tentu saja, Syphren menjadi tertarik.
Keesokan harinya, tanpa sengaja ia mengucapkan salah satu koreksi yang diberikan suara tersebut saat sesi diskusi kelas.
Kata-kata itu berhasil.
Terlalu berhasil.
Ketika kalimat itu keluar dari mulutnya, sebuah tekanan tak kasat mata menyebar ke seluruh ruangan. Sebuah buku teks besar terlempar dari podium dosennya dan jatuh ke lantai dengan suara keras. Beberapa murid mengaku merasakan sakit kepala mendadak. Salah satu di antaranya bahkan lupa apa yang sedang ia katakan selama beberapa detik.
Syphren sendiri sama terkejutnya dengan semua orang.
Namun keterkejutannya segera berubah menjadi rasa ingin tahu.
Dalam bulan-bulan berikutnya, suara itu semakin sering muncul.
Ia tidak pernah memerintah.
Tidak pernah mengancam.
Tidak pernah menawarkan kekuatan dengan harga tertentu.
Ia hanya berbicara.
Terkadang ia mengajukan pertanyaan tentang realitas.
Terkadang ia mengoreksi asumsi Syphren.
Terkadang ia menunjukkan celah-celah kecil dalam dunia yang selama ini dianggap normal.
Dan sesekali, ketika Syphren membiarkan pikirannya mengikuti alur pemikiran suara tersebut, sesuatu yang aneh terjadi pada kenyataan di sekitarnya.
Benda bergerak tanpa disentuh.
Pikiran dapat menjangkau pikiran lain.
Kata-kata memperoleh bobot yang tidak seharusnya mereka miliki.
Ketika Syphren mencoba mencari tahu identitas suara itu, ia tidak pernah mendapatkan jawaban langsung.
Sebagai gantinya, ia terus diperlihatkan gambaran yang sama.
Sebuah pintu.
Pintu ketiga.
Sebuah pintu yang seharusnya tidak ada, namun entah bagaimana telah muncul di dalam ruang batinnya sendiri.
Sebagian orang mungkin akan mencoba menutupnya.
Sebagian lain mungkin akan melarikan diri.
Syphren hanya ingin tahu apa yang ada di baliknya.
Tidak lama kemudian, ia meninggalkan Silverquill Academy. Secara resmi, alasannya adalah untuk melakukan penelitian independen. Namun sebenarnya, ia sedang mengikuti jejak sebuah misteri yang jauh lebih besar daripada apa pun yang dapat ditawarkan ruang kelas.
Perjalanannya akhirnya membawanya ke Vici City.
Di kota itulah ia tinggal sekarang, menyelidiki arsip-arsip tua, mencari teori-teori terlupakan, berbicara dengan para sarjana eksentrik, dan mencoba memahami siapa—atau apa—yang selama ini mengetuk pintu pikirannya.
Yang aneh, Syphren tidak merasa takut.
Ia tidak merasa terkutuk.
Ia bahkan tidak merasa dirinya sedang dimanipulasi.
Bagi Syphren, semua ini hanyalah sebuah pertanyaan yang belum terjawab.
Dan tidak ada satu hal pun di dunia yang lebih berbahaya daripada seorang akademisi yang menemukan pertanyaan baru.
Suara itu masih berbicara.
Pintu itu masih tertutup.
Dan Syphren Imporem, dengan ketenangan khasnya yang nyaris mustahil digoyahkan, berniat untuk membukanya.