Gold:
346
Species:
Forest Gnome
Class:
Sorcerer
Completed:
2
Most recent:
1 month ago
"Tanpa cinta, tak bisa dilihat"
Itu lah kata kata dari mulut Ken, salah seorang guru di Padepokan Taksaka, yang sering didengar Cico saat ada hal yang sulit dijelaskan. Karena usianya yang masih terbilang muda, Cico, murid berfisik lemah, belum bisa mendapat apa makna dari kata-kata tersebut namun ia tetap mengimaninya.
Cico merupakan murid dari Padepokan Taksaka yaitu perguruan bela diri dan magis yang tidak sungkan untuk membantu anak-anak jalanan membenahi diri. Alasan Cico bisa berakhir di tempat ini karena saat ia masih kecil, Ibunya membawa Cico ke Kota Vici, di mana Padepokan Taksaka berada. Entah apa yang dipikirkan wanita itu, ia meninggalkan Cico kecil di kota yang tidak kenalnya. Untungnya, seseorang membantunya, dan ia adalah Ken.
Di Padepokan Taksaka, Cico sering kewalahan saat ikut latihan fisik. Sebaliknya, saat latihan mantra magis, Cico menunjukan potensi yang cukup besar. Karena hal itu, Cico sering cabut latihan fisik. Ia jadi sering membuat makan atau minum untuk guru-guru ataupun teman-temannya saat ketahuan cabut. Salah seorang yang menonjol di mata Cico bernama Andore, badannya besar dan makannya banyak. Andore adalah orang yang sangat berjiwa petualang. Cico sering ia ceritakan ceritanya sebelum masuk Padepokan yang sangat menggelegar, entah itu terjadi beneran atau tidak, tapi memang ceritanya sangat menghibur.
Suatu ketika, di tengah keramaian murid murid yang sedang bermain, guru Ken datang menghampiriku. Ia mengatakan untuk bertemunya nanti di suatu kedai makanan. Karena kupikir ia ingin mentraktirku, aku setuju setuju saja. Di tempat makan itu aku melihat tiga murid lain, salah satunya adalah teman dekatku Andore. Saat sudah berkumpul, guru Ken langsung mengatakan bahwa kami adalah empat murid paling bawah dari seluruh padepokan. Mendengar hal tersebut, aku cuma bisa menggelengkan kepala. Namun guru Ken tiba tiba tersenyum seperti menunjukan kami untuk tidak risau, lalu ia mengatakan bahwa ada rumor tentang buah yang menambah kekuatan fisik dan magis di luar Kota Vici dan buah itu hanya tumbuh saat cuaca ekstrem. Guru Ken menekankan bahwa kami tidak boleh memberitahu siapa siapa karena bisa saja buah itu diambil terlebih dahulu oleh orang lain. Kami berempat pun yakin ini satu satunya cara untuk kami menjadi lebih kuat.
Tenda, makanan, air, banyak hal yang kami berempat siapkan untuk perjalanan ini. Kami pun keluar dan iya, cuaca hari ini sangatlah panas, tapi itu tidak menurunkan semangatku. Berjalan dan berjalan, padang rumput, sungai, dan hutan kami lewati untuk mencari buah solusi masalah kami. Karena sudah dekat dengan koordinat yang diberi guru Ken, kami pun memutuskan untuk bermalam. Malam itu tiba tiba hujan turun dengan lebat, cuaca ekstrem yang sangat panas tadi berubah jadi badai. Meski begitu, aku sudah cukup terlelap. Secara tipis tipis, aku mendengar ada yang izin untuk buang air di luar. Aku pikir apakah ia sudah sangat tidak tahan sampai sampai ingin buang air di tengah badai ini. Siluet dirinya mendatangiku dan mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya.
Pagi hari, aku sudah bangun sambil mendengar derasnya rintik badai yang belum reda. Satu kantung tidur kosong, aku pikir mungkin ada yang sudah bangun terlebih dahulu. Rasa ingin buang air memaksaku untuk pergi keluar, tapi tidak lupa aku membangunkan teman temanku terlebih dahulu. Berpegang mantel dan tongkatku saja, entah kemana belati milikku pergi, aku berjalan di tengah hujan. Selain air, aku juga melihat seperti tumbuhan kacang yang awalnya kuambil dan berencana memakannya, tapi aku teringat dari pelajaran tentang tumbuhan bahwa kacang tersebut beracun. Aku harap hanya itu yang kuihat, namun sesosok bermantel yang mirip denganku tergeletak di semak semak. Membalikkan badannya, aku melihat sebuah luka dalam di dadanya, seperti di tusuk sebuah belati. Tidak ada banyak cucuran darah, mungkin hujan telah membilasnya. Aku pun memberitahu yang lain.
Perasaan regu kami mulai muram dengan ditemukannya mayat teman kami. Andore mencoba menyemangati grup dengan ceritanya, namun di mataku ia tidak bisa menyembunyikan rasa takut dan waspadanya. Benar Andore, seharusnya aku juga merasa waspada sepertimu karena keesokan harinya, teman kami yang satunya menghembuskan nafasnya. Terdapat luka di kepalanya seperti terkena pukulan yang kuat. Kami berdua pun memutuskan untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang yang dibasahi badai tersebut, aku dan Andore tidak bercakap banyak. Tensi diantara kita sangatlah tegang. Tentu saja, aku curiga dengan Andore karena para korban memiliki luka yang menurutku hanya bisa dilakukan oleh orang yang kuat, dan kupikir Andore pasti mencurigai aku karena akulah yang pertama kali menemukan mayat dua orang itu. Hanya bunyi badailah yang menemani telingaku sepanjang perjalanan.
Kami pun sampai ke Padepokan Taksaka dengan badan basah kuyup, lalu tanpa mengeringkan tubuh Andore langsung pergi ke kamarnya. Dingin, aku pun menghangatkan tubuhku di dekat tungku, dan kebetulan tiba tiba guru Ken muncul. Aku pun melaporkan bahwa kami tidak mendapat buah penambah kekuatan tersebut dan juga teman teman kami meninggal. Mendengar hal tersebut, guru Ken termenung untuk beberapa saat, lalu mengatakan kepadaku bahwa dia akan menanganinya. Setelah itu dia menyuruhku untuk beristirahat dan makan terlebih dahulu, dan ia pun mengambil panci air hangat dari tungku yang katanya akan ia gunakan untuk mandi.
Di tengah kehangatan yang menyelimutiku, aku berpikir kembali apa yang terjadi. Untuk korban pertama, ada beberapa kemungkinan yang terjadi. Mungkin dia terbunuh ditusuk oleh monster liar yang berkenala di tengah hujan. Selain itu, mungkin siluet yang kulihat adalah korban itu sendiri yang meminjam belatiku, lalu karena kecelakaan tertusuk belati itu sendiri, dan belatinya hilang tertiup angin. Ada juga kemungkinan siluet tersebut adalah pelakunya, mungkin Andore, dan menikam korban. Untuk korban kedua, lebih sulit lagi. Aku menemukannya hanya dengan luka semacam bekas pukul di kepala. Kecurigaanku terhadap Andore meningkat di korban ini, akan tetapi mari tetap berpikir jernih. Mungkin angin melemparkan batu ke kepalanya, mungkin ia tersandung dan jatuh dengan kepalanya terlebih dahulu. Aku pun terlelap dalam kemungkinan.
Setelah itu datang seorang guru membawa peralatan masak. Ia melihatku dan langsung memarahiku karena sudah bolos berhari-hari. Alat masak itu pun diserahkan kepadaku, ia menyuruhku menyiapkan makanan untuk semuanya, lalu ia pun pergi. Ketidaktahuan akan hilangnya diriku dan empat orang lainnya oleh guru tersebut membuat aku teringat sesuatu. Apa kata kata yang sering dikatakan guru Ken?
"Tanpa cinta, tak bisa dilihat"
Guru Ken adalah guru yang mengirim kami ke ekspedisi tersebut. Selain itu, ia juga satu satunya orang yang tahu tentang keberadaan kami. Mungkin siluet itu guru Ken, yang mana ia mencoba mengatakan sesuatu untuk mengetes apakah kami tidur atau tidak. Guru Ken orangnya cukup kuat untuk mengikuti kami sendirian, cukup kuat untuk bertahan di badai yang berlangsung, dan juga cukup kuat untuk melakukan pembunuhan tersebut. Semakin dalam, dalam, dan dalam aku terjerumus ke jalan pikiran ini. Kenapa guru Ken masak air hangat untuk mandi? Apa dia kedinginan karena perjalanan tersebut? Pada akhirnya aku pun memutuskan, apa pun kebenarannya yang sesungguhnya terjadi, guru Ken harus mati. Kurogoh kantongku yang berisi kacang-kacangan.
...
Semenjak kematian guru Ken, Andore sangat jarang keluar dari kamarnya. Mulut yang bisa menunjuk siapa yang bisa meracuni guru Ken memenjarakan dirinya. Entah, mungkin ia juga mencurigai guru Ken, mungkin ia terlalu takut menghadapi kenyataan, atau entah mungkin dia pelaku sebenarnya. Semua itu sudah di belakang, dan aku sudah melakukan keputusan, aku sudah menyelesaikan "kebenaran" ku. Aku pun akhirnya meninggalkan Padepokan Taksaka.
Tanpa cinta, tak bisa dilihat? Maaf guru Ken, kata-katamu sendiri yang merenggut dirimu. Itu pilihanku, kebenaranku...
"Karena cinta, aku akhirnya melihat hal-hal yang bahkan tidak ada"
Tujuan berpetualang