Gold:
40
Silver:
150
Species:
Human
Class:
Ranger (Gloom Stalker)
Completed:
11
Most recent:
7 days ago
Isanbag Ongrim lahir dari pasangan budak yang tidak memiliki apa pun selain satu sama lain. Hidup mereka keras, penuh rantai, perintah, dan rasa takut, tetapi di tengah semua itu kedua orang tuanya tetap membesarkan Isan dengan kasih sayang yang hangat. Ayahnya mengajarkan kerja keras dan ketahanan, sementara ibunya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih sulit dipertahankan di dunia kejam: kebaikan.
Setiap malam sebelum Isan tidur, sang ibu selalu mengatakan hal yang sama:
“Saat kamu tersenyum pada dunia, dunia juga akan tersenyum balik kepadamu.”
Kalimat sederhana itu tertanam begitu dalam di hati Isan kecil.
Namun dunia, seperti biasa, punya hobi menghancurkan hal-hal indah. Manusia memang konsisten dalam satu hal: membuat hidup sesama manusia lebih buruk demi uang receh dan ego busuk mereka.
Saat Isan berusia lima tahun, ia dipisahkan dari kedua orang tuanya dan dijual ke rombongan budak lain. Ia tidak pernah melihat mereka lagi. Meski begitu, Isan tetap mencoba tersenyum. Di tengah cambukan, rasa lapar, dan perjalanan panjang tanpa tujuan, kata-kata ibunya menjadi satu-satunya hal yang ia miliki.
Tahun demi tahun berlalu hingga Isan tumbuh menjadi pemuda yang terbiasa hidup dalam penderitaan.
Suatu hari, rombongan budak yang membawanya diserang oleh sekelompok bandit. Dalam kekacauan itu, Isan bersama beberapa budak lain berhasil melarikan diri. Mereka membentuk kelompok kecil demi bertahan hidup. Awalnya mereka hanya mencuri makanan dan perlengkapan, tetapi keadaan perlahan mengubah mereka menjadi bandit.
Di kelompok itulah Isan belajar menggunakan senjata, terutama busur. Ia memiliki tangan yang stabil dan mata yang tajam. Dibandingkan bertarung langsung, Isan lebih suka mengamati dari jauh dan mencari celah. Meski hidup sebagai bandit, ia masih memiliki batasan. Ia membenci membunuh orang yang tidak perlu dan sering diam-diam membantu korban yang dianggap “terlalu miskin untuk dirampok.” Kebiasaan yang membuat beberapa anggota kelompoknya menganggap Isan terlalu lembek.
Dan ternyata mereka benar soal satu hal: Isan terlalu mudah percaya.
Saat kelompok mereka merencanakan perampokan besar di Kota Vici, Isan ditugaskan mengambil barang target terlebih dahulu. Tanpa ia sadari, seluruh rencana itu hanyalah jebakan. Rekan-rekannya sengaja menjadikannya umpan agar mereka bisa kabur tanpa dikejar penjaga kota.
Isan tertangkap sendirian.
Di dalam sel penjara Vici, untuk pertama kalinya Isan benar-benar hancur. Ia marah pada dunia, pada nasib, bahkan pada dirinya sendiri karena masih percaya pada orang lain. Malam demi malam ia terus mengingat kata-kata ibunya.
“Saat kamu tersenyum pada dunia, dunia juga akan tersenyum balik kepadamu.”
Namun semakin ia memikirkannya, semakin ia sadar bahwa ibunya mungkin salah.
Dunia tidak selalu membalas senyuman.
Dunia bisa mengkhianati, merampas, dan menghancurkan seseorang tanpa alasan.
Tetapi Isan akhirnya memahami sesuatu yang lain.
Senyum itu bukan untuk mengubah dunia. Senyum itu untuk memastikan dunia tidak berhasil mengubah dirinya menjadi monster.
Sejak saat itu Isan berubah. Ia mulai lebih banyak tersenyum, bercanda, dan mencoba terlihat ceria meski hidup terus mengecewakannya. Bukan karena ia naïf, tetapi karena ia menolak membiarkan kebencian mengambil semua hal baik yang diwariskan kedua orang tuanya.
Waktu berlalu, hukuman selesai, dan Isan kembali menginjak dunia yang sama kerasnya seperti dulu.
Namun kali ini, ia berjalan dengan pilihannya sendiri.
Dan dari sinilah kisah hidup barunya dimulai.
“Dunia boleh saja tidak tersenyum kepadaku…
tetapi aku akan selalu mencoba tersenyum pada dunia."
| Tanggal | Lokasi | Misi |
|---|---|---|
| 7-9 Ramiel | Desa Chabbylon | Finish The Hunt |
| 11-12 Ramiel | Desa Chabbylon to Vici city | Pengawalan malam ke kota Vici |
| 3 vely | Desa chabbykon | The Suspicious Song |
| 17 Bloomviel | Kota Vici | The Road To Sylvaran |
| 10-15 Solis | Hutan Locostra | Lolongan di Hutan Locostra |