Tahun demi tahun berlalu hingga Isan tumbuh menjadi pemuda yang terbiasa hidup dalam penderitaan.
Suatu hari, rombongan budak yang membawanya diserang oleh sekelompok bandit. Dalam kekacauan itu, Isan bersama beberapa budak lain berhasil melarikan diri. Mereka membentuk kelompok kecil demi bertahan hidup. Awalnya mereka hanya mencuri makanan dan perlengkapan, tetapi keadaan perlahan mengubah mereka menjadi bandit.
Di kelompok itulah Isan belajar menggunakan senjata, terutama busur. Ia memiliki tangan yang stabil dan mata yang tajam. Dibandingkan bertarung langsung, Isan lebih suka mengamati dari jauh dan mencari celah. Meski hidup sebagai bandit, ia masih memiliki batasan. Ia membenci membunuh orang yang tidak perlu dan sering diam-diam membantu korban yang dianggap โterlalu miskin untuk dirampok.โ Kebiasaan yang membuat beberapa anggota kelompoknya menganggap Isan terlalu lembek.
Dan ternyata mereka benar soal satu hal: Isan terlalu mudah percaya.
Saat kelompok mereka merencanakan perampokan besar di Kota Vici, Isan ditugaskan mengambil barang target terlebih dahulu. Tanpa ia sadari, seluruh rencana itu hanyalah jebakan. Rekan-rekannya sengaja menjadikannya umpan agar mereka bisa kabur tanpa dikejar penjaga kota.
Isan tertangkap sendirian.
Di dalam sel penjara Vici, untuk pertama kalinya Isan benar-benar hancur. Ia marah pada dunia, pada nasib, bahkan pada dirinya sendiri karena masih percaya pada orang lain. Malam demi malam ia terus mengingat kata-kata ibunya.
โSaat kamu tersenyum pada dunia, dunia juga akan tersenyum balik kepadamu.โ
Namun semakin ia memikirkannya, semakin ia sadar bahwa ibunya mungkin salah.
Dunia tidak selalu membalas senyuman.
Dunia bisa mengkhianati, merampas, dan menghancurkan seseorang tanpa alasan.
Tetapi Isan akhirnya memahami sesuatu yang lain.
Senyum itu bukan untuk mengubah dunia. Senyum itu untuk memastikan dunia tidak berhasil mengubah dirinya menjadi monster.
Sejak saat itu Isan berubah. Ia mulai lebih banyak tersenyum, bercanda, dan mencoba terlihat ceria meski hidup terus mengecewakannya. Bukan karena ia naรฏf, tetapi karena ia menolak membiarkan kebencian mengambil semua hal baik yang diwariskan kedua orang tuanya.
Waktu berlalu, hukuman selesai, dan Isan kembali menginjak dunia yang sama kerasnya seperti dulu.
Namun kali ini, ia berjalan dengan pilihannya sendiri.
Dan dari sinilah kisah hidup barunya dimulai.
โDunia boleh saja tidak tersenyum kepadakuโฆ
tetapi aku akan selalu mencoba tersenyum pada dunia."
| Tanggal | Lokasi | Misi |
|---|---|---|
| 7-9 Ramiel | Desa Chabbylon | Finish The Hunt |
| 11-12 Ramiel | Desa Chabbylon to Vici city | Pengawalan malam ke kota Vici |
| 3 vely | Desa chabbykon | The Suspicious Song |
| 17 Bloomviel | Kota Vici | The Road To Sylvaran |
| 10-15 Solis | Hutan Locostra | Lolongan di Hutan Locostraโ |